Dukungan terbuka Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kepada Presiden Prabowo Subianto untuk maju kembali pada Pilpres 2029 menandai fase konsolidasi politik yang signifikan. Langkah ini memperkuat posisi Gerindra sebagai pusat gravitasi koalisi, sekaligus membuka diskusi tentang dinamika internal dan arah peta politik Indonesia ke depan.
Strategi Internal Gerindra
- Gerindra, melalui Sekjen Sugiono, menekankan bahwa dukungan PAN dan PKB lahir dari cita-cita yang sama.
- Narasi ideologis melalui dukungan diposisikan bukan sekadar politis, melainkan berbasis visi dan program.
- Stabilitas pemerintahan. Strategi ini penting untuk menjaga konsistensi kebijakan di awal masa pemerintahan.
- Citra kepemimpinan melalui program unggulan seperti makan bergizi gratis dan pengentasan kemiskinan dijadikan bukti arah yang harus dipertahankan.
Posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka
Dukungan dini terhadap Prabowo menimbulkan pertanyaan tentang ruang politik bagi Gibran:
- Potensi basis politik. Sebagai wakil presiden, Gibran memiliki peluang membangun pengaruh sendiri.
- Risiko terbatasnya ruang manuver. Narasi yang terlalu cepat mengunci arah koalisi pada Prabowo bisa membatasi peran Gibran.
- Interpretasi pengamat. Beberapa menilai ini sebagai bentuk “amputasi politik”, di mana masa depan koalisi tetap berpusat pada Prabowo, bukan figur baru.
Dampak bagi Peta Koalisi Pilpres 2029
Dukungan PAN dan PKB memperkuat kesan bahwa peta politik 2029 mulai digambar sejak dini.
- Jangka pendek. Menambah stabilitas pemerintahan dengan partai koalisi menegaskan kesetiaan.
- Jangka panjang. Konsolidasi terlalu cepat bisa menimbulkan ketegangan jika aspirasi internal tidak terakomodasi.
- Arah koalisi. Prabowo tetap figur utama, sementara calon wakil presiden masih menjadi diskusi yang ditunda.
Dukungan PAN dan PKB kepada Prabowo Subianto bukan sekadar deklarasi politik, melainkan bagian dari strategi Gerindra untuk mengunci arah koalisi menuju Pilpres 2029. Namun, langkah ini juga berimplikasi pada posisi Gibran yang bisa terbatas, serta menandai bahwa peta politik Indonesia mulai dikonsolidasi lebih awal.







