Umat Islam kini memasuki bulan Syaban, bulan kedelapan dalam kalender Hijriah. Meski kerap terlewatkan karena berada di antara Rajab dan Ramadan, Syaban menyimpan sejarah panjang dan keutamaan yang mendalam.
Secara bahasa, Syaban berarti percabangan atau perpisahan. Nama ini muncul sejak masa Jahiliyah, ketika masyarakat Arab berpencar mencari air dan kebutuhan hidup. Sejarawan mencatat, penamaan Syaban sudah dikenal sejak abad ke-5 Masehi, pada masa Kilab bin Murrah, kakek kelima Nabi Muhammad SAW.
Syaban juga menjadi bulan persiapan menuju Ramadan. Rasulullah SAW dikenal memperbanyak puasa di bulan ini, bahkan menyebut Syaban sebagai “bulanku”. Hadits menyebutkan, amal manusia diangkat kepada Allah SWT pada bulan ini, sehingga Rasulullah ingin amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa.
Selain itu, Syaban menjadi saksi peristiwa penting dalam sejarah Islam: perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah di Makkah. Malam Nisfu Syaban, yang jatuh pada pertengahan bulan, juga diyakini sebagai malam penuh ampunan.
Dengan keistimewaan tersebut, Syaban bukan sekadar bulan transisi, melainkan momentum bagi umat Islam memperkuat ibadah dan mempersiapkan diri menyambut Ramadan.







