Di sebuah sudut ibu kota, perdebatan mengenai masa depan ekonomi bangsa tidak lagi terjadi di ruang rapat tertutup, melainkan di atas piring makan. Sebuah narasi kuat sedang diuji: mampukah sebuah negara tumbuh besar hanya dengan memastikan rakyatnya kenyang?
Para kritikus menyebutnya sebagai “Pilar dari Kardus”. Analogi ini menggambarkan kebijakan yang sangat bertumpu pada konsumsi langsung—seperti program makan gratis—namun abai pada penguatan produksi dalam negeri.
Produksi vs. Konsumsi, Tarikan Tambang Ekonomi
Secara historis, ekonomi yang sehat membutuhkan keseimbangan. “Ekonomi tidak tumbuh dari perut, tapi dari produksi. Pesannya jelas: memberi makan adalah solusi jangka pendek, namun membangun pabrik dan kedaulatan pangan adalah strategi jangka panjang.
Masalahnya, ketika pilar ekonomi ditopang oleh bantuan komoditas, ada risiko “rayap” birokrasi dan ketergantungan impor yang mengintai. Jika beras, telur, dan susu di meja makan tersebut berasal dari pelabuhan luar negeri, maka stimulus ekonomi yang diharapkan justru “bocor” ke kantong produsen asing.
Lubang di Bawah Fondasi
Dalam data yang sering dirujuk para ekonom, ketergantungan pada impor seringkali berjalan beriringan dengan menguatnya jejaring kroni dalam kuota perdagangan. Uang negara, yang seharusnya menjadi semen bagi fondasi industri manufaktur, justru mengalir keluar melalui selokan-selokan perdagangan yang tidak efisien.
Jika kita terus menyuapi tanpa memperbaiki cangkul, kita hanya menciptakan bangsa yang kenyang namun rapuh.
Langkah selanjutnya bagi Indonesia mungkin bukan memilih salah satu, melainkan memastikan bahwa setiap butir nasi yang diberikan adalah hasil dari mesin produksi lokal yang mandiri. Tanpa itu, gedung megah ekonomi kita mungkin tetap berdiri, namun di atas tumpukan kardus yang siap roboh kapan saja.


