Dalam era kecerdasan buatan, istilah training menjadi kata kunci. Mesin belajar dari jutaan data, menyesuaikan algoritma, hingga akhirnya mampu mengenali pola. Namun, jika kita menoleh ke dalam diri, bukankah otak manusia bekerja dengan prinsip serupa?
Otak kita tidak lahir dengan pengetahuan siap pakai. Ia berkembang melalui pengalaman, pengulangan, dan refleksi. Sama seperti AI yang membutuhkan data, manusia membutuhkan interaksi, bacaan, dan latihan mental. Bedanya, manusia memiliki intuisi, emosi, dan nilai yang memberi arah pada pembelajaran.
Latihan pikiran bukan sekadar menghafal. Ia mencakup membiasakan diri berpikir kritis, menulis, berdiskusi, dan mencoba hal baru. Setiap kali kita mengulang, otak membentuk koneksi sinapsis yang lebih kuat. Inilah “training” versi manusia: membangun kebiasaan yang menajamkan daya pikir.
Betapa pentingnya literasi dan kebiasaan belajar sepanjang hayat. Dalam konteks modern, kita bisa melihat otak sebagai “mesin hidup” yang perlu dirawat. Tanpa latihan, ia tumpul. Dengan latihan, ia menjadi alat paling berharga untuk menghadapi kompleksitas dunia digital.
Seperti AI yang terus diperbarui, manusia pun harus terus melatih pikiran. Bukan hanya untuk produktivitas, tetapi juga untuk menjaga relevansi, kreativitas, dan kebijaksanaan.







