Thursday, February 12, 2026
HomeLifestyleTravelAgrowisata Berbasis Komunitas, dari Sawah ke Ruang Wisata Edukatif

Agrowisata Berbasis Komunitas, dari Sawah ke Ruang Wisata Edukatif

Kabut tipis masih menyelimuti Desa Tambe ketika suara ayam berkokok bersahut-sahutan dengan riang anak-anak yang berlarian di jalan desa. Di tepi sawah, Ahmad Yani bersama keluarganya menyiapkan tikar sederhana. Di atasnya, ayam bakar dan sayur segar dari ladang tersaji, siap dibagikan kepada tamu yang datang. Ini bukan sekadar santapan di ladang melainkan pengalaman belajar tentang kehidupan desa yang sesungguhnya.

Di Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, NTB, sawah dan ladang jagung kini bukan hanya sumber pangan, tetapi juga ruang wisata edukatif. Fenomena ini dikenal sebagai agrowisata berbasis komunitas—sebuah pendekatan yang menempatkan masyarakat desa sebagai tuan rumah sekaligus narator utama. Ahmad Yani, seorang petani yang kini juga menjadi penggerak wisata, menjelaskan, “Kami ingin orang kota tahu bahwa menanam itu bukan pekerjaan mudah. Setiap butir nasi maupun jagung punya cerita panjang.”

Sawah sebagai Kelas Terbuka

Agrowisata di Tambe menawarkan pengalaman langsung: wisatawan diajak menanam bibit jagung, merasakan tanah di kaki, dan memahami siklus hidup tanaman. Sawah menjadi kelas terbuka, tempat belajar tentang hubungan manusia dengan alam.

Menurut data Kementerian Pariwisata, NTB mencatat peningkatan minat wisata berbasis komunitas dalam lima tahun terakhir. Tren ini sejalan dengan kebutuhan wisatawan global yang mencari pengalaman autentik, bukan sekadar destinasi foto. Di Tambe, wisatawan bisa ikut memanen jagung atau menanam padi, sambil mendengar cerita tentang tradisi panen yang diwariskan turun-temurun.

Kuliner di Tengah Alam

Tidak ada restoran mewah, hanya tikar sederhana di tepi jalan desa. Namun di sanalah wisatawan menemukan kehangatan: ayam bakar hasil ternak lokal, sayur dari ladang, dan kue tradisional khas Bima. Kuliner pedesaan menjadi bagian integral dari perjalanan, menghubungkan rasa dengan cerita.

Seorang wisatawan asal Mataram berkata, “Rasanya berbeda ketika makan di sini. Ada aroma tanah basah, ada cerita di balik setiap bahan makanan.” Bagi banyak pengunjung, pengalaman ini lebih berharga daripada hidangan di hotel berbintang.

Tantangan dan Harapan

Meski potensinya besar, pengembangan agrowisata di Tambe menghadapi sejumlah tantangan. Infrastruktur masih terbatas, promosi belum maksimal, dan keterampilan pengelolaan wisata perlu ditingkatkan. Ahmad Yani mengakui, “Kami belajar pelan-pelan. Dulu hanya bertani, sekarang harus bisa menyambut tamu, menjelaskan, bahkan mengatur jadwal kunjungan.”

Namun, tren global mendukung arah ini. Community-based tourism semakin diminati wisatawan internasional. Di era pariwisata massal yang serba cepat, agrowisata berbasis komunitas menawarkan alternatif: perjalanan kecil, intim, dan berkelanjutan.

Global-Local Framing

Di banyak negara, wisata berbasis komunitas menjadi strategi untuk menjaga keberlanjutan. Indonesia, dengan kekayaan alam dan budaya, memiliki peluang besar. Menurut analisis akademik, agritourism di Indonesia berkembang pesat dalam literatur akademik, menandakan meningkatnya perhatian terhadap sektor ini.

Keberhasilan tidak hanya bergantung pada potensi alam. Kunci utamanya adalah keterlibatan masyarakat. Ketika warga desa seperti Ahmad Yani menjadi tuan rumah, mereka bukan hanya menerima tamu, tetapi juga membangun narasi tentang identitas dan masa depan mereka.

Refleksi di Musim Hujan

Ketika hujan turun, wisatawan berlari mencari teduh di bawah pohon pisang. Ahmad Yani tersenyum, “Beginilah hidup kami, hujan adalah berkah.” Di momen itu, batas antara tamu dan tuan rumah menghilang. Sawah bukan lagi sekadar lahan pangan, melainkan ruang pertemuan, ruang belajar, dan ruang wisata yang menyatukan manusia dengan alam.

Agrowisata berbasis komunitas menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar destinasi. Ia adalah perjalanan menuju pemahaman, solidaritas, dan keberlanjutan. Di ladang jagung dan sawah yang hijau di Tambe, wisatawan menemukan bukan hanya pemandangan, tetapi juga cerita—tentang kerja keras, kebersamaan, dan harapan.

 

Sofyan Y
Sofyan Yhttp://www.rasaboucreative.com
Pendiri Rasabou Creative, hanya seorang musafir digital yang merangkai ide, desain, dan makna untuk perjalanan bersama.
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments