Thursday, February 12, 2026
HomePropertiGenteng Tanah Liat, Material Tradisional yang Jadi Kunci Masa Depan Hijau Indonesia

Genteng Tanah Liat, Material Tradisional yang Jadi Kunci Masa Depan Hijau Indonesia

Dari Warisan Nusantara ke Gerakan Nasional

Genteng tanah liat mungkin terlihat sederhana. Namun di balik bentuknya yang akrab di banyak rumah Indonesia, tersimpan cerita tentang ekonomi rakyat, keberlanjutan lingkungan, dan bahkan visi politik masa depan.

Industri yang Membumi

Dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2020, industri genteng tanah liat tercatat dengan kode 23922. Produksinya mencakup genteng pres, genteng kodok, hingga genteng berglazur. Sebagian besar dibuat dengan teknologi sederhana, berbasis bahan lokal, dan dikerjakan di rumah-rumah produksi kecil.

Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia, Georgius Budi Yulianto, menegaskan bahwa genteng tanah liat adalah bagian dari ekonomi kerakyatan. “Ia dibuat dari bahan lokal, minim proses industri, dan mendukung ekonomi rakyat melalui produksi rumahan,” ujarnya.

Paru-Paru Rumah

Lebih dari sekadar atap, genteng tanah liat berfungsi sebagai “paru-paru rumah”. Porositas alami hasil pembakaran tanah liat membuat bangunan lebih sejuk, mengurangi ketergantungan pada pendingin udara, sekaligus menekan konsumsi listrik dan emisi karbon.

“Dalam konteks krisis energi dan iklim saat ini, kenyamanan termal alami dari genteng tanah liat menjadi nilai yang semakin tak tergantikan,” kata Boegar, sapaan akrab Georgius.

Atap tanah liat juga membantu menekan fenomena Urban Heat Island—pemanasan berlebih di kawasan perkotaan akibat permukaan bangunan yang menyerap panas. Tidak menyilaukan, tidak memantulkan panas secara agresif, genteng tanah liat justru menyerap dan menstabilkan suhu sekitar.

Warisan Leluhur

Bagi banyak arsitek, genteng tanah liat bukan hanya material, melainkan warisan budaya. “Ia adalah warisan leluhur yang dirancang secara alami untuk beradaptasi dengan iklim tropis Indonesia,” ujar Boegar.

Genteng tanah liat menjadi simbol kearifan lokal: sederhana, fungsional, dan berkelanjutan.

Dari Tradisi ke Kebijakan

Genteng tanah liat kini kembali menjadi sorotan setelah Presiden Prabowo Subianto menyampaikan gagasan “gerakan gentengisasi”. Ia berharap seluruh atap di Indonesia beralih ke genteng tanah liat, menggantikan seng yang dinilai membuat rumah lebih panas dan mudah berkarat.

“Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng,” serunya dalam Rapat Koordinasi Nasional di Bogor, awal Februari.

Prabowo bahkan menyinggung Surabaya, yang menurutnya terlalu banyak menggunakan atap seng. Ia juga menyampaikan pesan kepada pengusaha aluminium untuk beralih ke komoditas lain.

“Maaf bikin yang lain-lain deh,” katanya.

Antara Ekonomi dan Estetika

Gerakan gentengisasi bukan hanya soal kenyamanan termal. Ia juga menyentuh aspek estetika kota dan desa. Genteng tanah liat dianggap lebih indah, lebih serasi dengan lanskap tropis, dan lebih tahan lama dibanding seng atau asbes.

“Bupati maupun wali kota yang tidak mau kotanya indah, terserah. Yang mau ayo bersama kita. Bikin kotamu indah, bikin desamu indah,” pungkas Prabowo.

Masa Depan yang Membumi

Genteng tanah liat adalah contoh bagaimana tradisi bisa menjawab tantangan modern. Ia menopang ekonomi rakyat, menjaga kenyamanan rumah, dan berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan.

Di saat dunia mencari cara mengurangi jejak karbon, genteng tanah liat menunjukkan bahwa solusi bisa datang dari warisan sederhana—dan membumi.

Taufik Hidayat
Taufik Hidayat
Aktivis LSM dan wartawan, memperjuangkan transparansi, advokasi masyarakat, dan menyuarakan isu sosial-politik melalui liputan kritis, berimbang, serta berbasis data demi perubahan publik.
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments