Home / Kesehatan / Snapchat “No-Makeup” Raisa dan Ekspektasi Tentang Cantik Natural

Snapchat “No-Makeup” Raisa dan Ekspektasi Tentang Cantik Natural

Beberapa hari yang lalu, netizen lintas socmed (Snapchat dan Instagram) sempat heboh dengan berita tentang Raisa ‘marah-marah’ di Snapchat. Lho, ada apa?

Di akun Snapchat-nya (@raisabackstage), Raisa curhat tentang pengalamannya saat sedang makan di restoran langganannya. Saat sedang makan di restoran tersebut, Raisa mendengar salah satu waitress (yang kayaknya nggak ngeh kalau Raisa lagi makan di situ) ngomongin Raisa bertubi-tubi dengan temannya.

Kata-kata sang waitress ternyata cukup membuat Raisa kesal hingga ia keluar dari booth tempatnya makan, nyamperin sang waitress, dan bertanya baik-baik, “Mbak kenapa? Ada masalah apa ya sama saya?”

Singkat cerita, sang waitress akhirnya mengatakan kalau inti dari kata-katanya tadi adalah dia cuma mau melihat Raisa tanpa makeup dan foto bareng saat Raisa lagi nggak pakai makeup.

“Dia ngomong seolah-olah aku ini tidur aja pake makeup. Kebetulan hari itu makeup-ku emang lagi cukup tebel karena aku abis photoshoot sama Elevenia. Akhirnya aku bilang, “Mbak pasti baru ya, di sini” karena saya selalu dateng ke restoran ini tiap minggu, kadang abis olahraga, kadang juga pake baju tidur, kadang ya memang habis photoshoot. ”

 

“Tapi ya udahlah, soal Mbak itu aku emang cuma pengen curhat aja,” lanjut Raisa, “Yang mau aku tekanin adalah nilai seorang wanita tuh nggak bergantung sama seberapa makeup yang dia pake. Aku nggak mau foto di IG trus bilang “no makeup, no filter, I have such good skin” dan bikin orang lain ngerasa buruk tentang dirinya sendiri.”

“Because no makeup, no filter, doesn’t mean you’re better than anybody. Doesn’t mean your better than filter and makeup. Yes, you have to love your skin, you have to take care of it, but after all if you want to wear makeup, wear it!

Screen Shot 2016-09-15 at 7.52.15 AMSumber: Instagram.com/raisa6690

Kira-kira begitu sabda Raisa di Snapchat. Lewat video singkat tersebut, message Raisa cukup jelas: makeup memang identik dengan perempuan, tapi apakah itu satu-satunya tolak ukur yang diperhitungkan saat kita menilai seseorang?

“Rant” Raisa di Snapchat ini cukup mengundang banyak respon, terutama karena beberapa hari sebelum memposting video ini di Snapchat, dunia maya sempat heboh dengan gosip Raisa yang menjadi orang ketiga dalam hubungan presenter Hamish Daud dan Nadine Chandrawinata. Terlepas dari gosip-gosip aneh (yang tentunya nggak akan dibahas di sini), saat membuka IG Raisa, saya cukup terganggu membaca sejumlah hate comments di IG Raisa yang isinya membandingkan dirinya dengan Nadine hanya karena makeup.

Thanks to fitur baru Instagram yang kini bisa mem-block hate comments, saat artikel ini dibuat saya sudah nggak bisa lagi mencari hate comments di IG Raisa karena banyak yang sudah terhapus. Kurang lebih, bunyinya kira-kira seperti ini:

“Ah, Nadine lebih cantik, nggak pernah makeup-an, selalu tampil natural. Raisa mah makeup-an banget”

“Foto-foto di IG Raisa isinya pake makeup tebel semua, kayak Nadine dong, cantik alami.”

Di sini saya nggak ngebelain siapa-siapa, juga nggak nentuin siapa yang lebih cantik dari siapa. Selama manusia masih punya muka, akan selalu ada wacana si A lebih cantik dari B, dan si C lebih jelek dari si D. I get it, especially when Internet trolls are involved.

Kembali ke comment-comment tersebut, rasanya saya mendapat vibe kalau perempuan yang pakai makeup seolah dilihat seperti “curang” karena mereka melakukan “usaha” untuk terlihat lebih cantik. “Usaha” yang hadir dalam bentuk foundation dan concealer, bukan semata-mata faktor bawaan lahir yang sudah bikin kita cantik “dari sananya”. “Usaha” ini, membuat si perempuan terlihat fake, palsu, dan nggak alami. Lah?

Nadine, (which is also a beauty herself) adalah seorang presenter acara petualang di TV yang kerjanya naik turun gunung dan diving. Wajar kalau Nadine nggak punya tim makeup dan hairdo yang harus siap sedia di kaki gunung setiap subuh sebelum mulai shooting. Beda dengan Raisa yang memang pekerjaannya menuntut dia untuk selalu camera ready dengan glam team yang siap sedia untuk touch-up di belakang panggung.

Ngebandingin soal ketebalan makeup kedua public figure ini sama aja kayak, “Ih, itu astronot lebay amat sih ke kantor NASA pake baju tebel sama helm segala. Mas Eko, IT Manager-nya Female Daily aja ke kantor cuma pake kemeja biasa.” Nggak bisa dibandingin apple-to-apple, kan?

Oke, saya jadi ngelantur soal dua seleb tersebut. Moving on, saya jadi teringat kutipan yang pernah saya baca di suatu blog beberapa tahun yang lalu,

“Why does my makeup makes you feel like I cheated in some competition of beauty?”

Saya membaca kutipan tersebut beberapa tahun yang lalu, ketika No-Makeup Makeup look lagi booming-booming-nya. Saat itu saya berpikir, kenapa namanya harus No-Makeup Makeup, sih? Emang pake makeup tuh segitu malu-maluinnya ya, sampe gaya makeup natural aja diganti namanya jadi No-Makeup Makeup? Ya bilang aja sih, gue pake bedak dikit, eyeliner tipis, ama concealer buat nutupin mata panda. Who are we trying to fool anyway?

Kadang, masyarakat punya unrealistic expectation bahwa perempuan itu harus sudah cantik tanpa makeup. Kalau pakai makeup, wah, tetooottt, berarti dia udah nggak cantik alami lagi. Bubar jalan deh, kalo gitu. Kayaknya masih banyak yang belum mau paham kalau di dunia ini, ada segelintir cewek-cewek yang mau menghabiskan sepuluh menit ekstra di depan kaca setiap pagi untuk pakai eyeliner, namun ada juga yang habis mandi langsung berangkat. Ada yang setiap pagi menjepit bulu mata, ada pula yang enggak. Apakah ini berarti yang satu jadi lebih baik dari yang lainnya? I guess not.

Ini berlaku juga sebaliknya. Apakah karena kamu bisa ngebedain lipstik M.A.C Ruby Woo dengan M.A.C Russian Red, itu berarti kamu adalah perempuan yang lebih oke dibanding perempuan yang nggak pernah pakai lipstik merah seumur hidupnya? Apakah perempuan yang nggak ngerti pakai mascara berarti bukan perempuan seutuhnya?

Somehow orang-orang terlalu terobsesi dengan apa yang perempuan pakai atau nggak pakai di wajahnya. Obsesi yang jadi melebar terlalu jauh karena ternyata, menilai karakter dan personality seorang perempuan bisa diukur dari tebalnya bedak atau pensil alis yang dipakai. Seolah-olah nggak usah kenal lebih jauh, nggak usah ngobrol terlalu banyak, karena dari dia makeup-an aja, kita sudah tahu banget dia perempuan seperti apa. Bukan begitu? :)

Sumber : femaledaily.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by keepvid themefull earn money