Home / Indonesia / Sikap Muslim Tanjungbalai Terhadap Etnis Cina yang Belum Terungkap Selama Ini, Baca Selengkapnya

Sikap Muslim Tanjungbalai Terhadap Etnis Cina yang Belum Terungkap Selama Ini, Baca Selengkapnya

Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Tengku Zulkarnain. (foto: suara islam)
Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Tengku Zulkarnain. (foto: suara islam)

Suaracitizen.com – Terkait tuduhan intoleran terhadap umat Muslim di Tangjungbalai pasca kerusuhan beberapa waktu lalu, Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Tengku Zulkarnain mengatakan bahwa sebenarnya umat Islam di Tanjungbalai selama ini justru yang paling toleran.

“Umat Islam di Tanjungbalai itu sangat baik, mungkin terbaik sedunia,” ujarnya kepadaSuara Islam Online beberapa waktu lalu di Bogor.

Kenapa saya katakan demikian, coba perhatikan, kata Tengku, setiap hari orang-orang Cina disana itu bakar dupa, dan rumah disana itu sangat padat. “Itu asap dupanya masuk ke rumah-rumah kita umat Islam. Berpuluh tahun kita tidak protes, kita paham itu lakum dinukum waliyadin, urusan agama masing-masing, kita sabar karena itu resiko bertetangga dan bernegara,” ungkap ulama yang tahu betul kondisi Tanjungbalai karena keluarganya berasal dari sana.

Kemudian, lanjut Tengku, orang-orang Cina disana juga punya bangunan yang tinggi-tinggi untuk sarang burung walet, dan hampir 100% sarang walet di Tanjungbalai itu milik orang Cina. Dan bukan hanya di Tanjungbalai, Bagansiapi-api, Indragiri Hilir, Singkawang dan lainnya di sekitar pinggir laut, penangkar walet itu juga bukan milik orang Islam.

“Mereka itu 12 jam dari pagi sampai sore memutar soundsystem suara burung walet yang terdengar sampai sejauh 1 km. Bayangkan berapa banyak bangunan seperti itu dan puluhan tahun mereka melakukan itu, kita tidak protes. Orang Islam paham mereka sedang mencari makan, kita bersabar karena itu resiko bertetangga dan bernegara,” jelasnya.

“Eh tiba-tiba, adzan kita yang cuma 2 menit mau diatur bahkan dilarang oleh mereka,” kata Tengku menyinggung soal kejadian protes adzan oleh warga etnis Cina bernama Meliana di Tanjungbalai akhir Juli lalu.

Kata Tengku, kalau soal aturan, umat Islam itu sudah mengatur dirinya sendiri, kapan waktunya adzan dan berapa jangkauan suaranya. Biasanya jangkauan adzan itu sejauh satu mukim.

“Satu mukim itu sekitar 40 rumah jadi tidak perlu sampai banyak kampung yang mendengar, itu cuma untuk mukimnya masing-masing kok. Makanya untuk adzan itu tidak perlu soundsystem yang besar, cukup speaker toa saja yang rata-rata kekuatannya hanya sekitar 300 watt saja. Apalagi Masjid Al Makhsum yang diprotes itu juga cuma pakai toa saja, bukan seperti soundnya masjid istiqlal yang besar,” terangnya.

“Jadi saya pikir, ini arogansi, mereka sudah merasa berkuasa terus menganggap remeh terhadap bangsa Indonesia,” tambahnya.

Tengku mengaku mengungkapkan hal tersebut bukan atas dasar kebencian ras. “Saya tidak benci orang Cina karena saya sendiri juga orang Cina. Tetapi yang saya benci itu arogansi, monopoli, ketidakadilan, keserakahan dan sejenisnya,” pungkas Tengku.

red: adhila

Sumber : www.suara-islam.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by keepvid themefull earn money