Amerika Mengusir China

Suaracitizen.com – Salah satu kasus yang menonjol dalam dua tahun pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla adalah membanjirnya imigran China ke Indonesia. Paling tidak ada 1,3 juta orang China baru masuk ke Indonesia. Mereka umumnya buruh-buruh kasar dan angkatan kerja yang masih produktif.

Bagi pemerintah China, mengekspor jutaan tenaga kasar ini suatu keharusan. Saat ini di China, ada 45 juta tenaga kerja menganggur yang menunggu pekerjaan. Hal itu karena melambatnya pertumbuhan ekonomi China, sehingga banyak yang di PHK. Kedua banyak pabrik ditutup karena masuknya era teknologi baru dimana tenaga “unskill” alias buruh kasar kurang dibutuhkan lagi.

Seiring dengan kebijakkan politik Luar Negeri era Jokowi ini sangat berporos ke China, dimana hutang baru mengucur dari China, maka penerimaan buruh-buruh China ini adalah satu paket dengan pinjaman dari pemerintah China. Contoh yang mencolok adalah reklamasi pantai di di Kepulauan Seribu. Dari tanaga ahli sampai tukang pasang batunya harus dari China. Begitu juga pembangunan kereta cepat Bandung- Jakarta, mayoritas tenaga kerjanya juga dari China.

Membanjirnya buruh dengan jumlah jutaan dari China ini jelas akan menimbulkan konflik sosial, politik dan budaya. Seperti diketahui, perekonomian di tanah air kita sangat pincang. Satu persen penduduk menguasai 70% hajat hidup dan sumber daya rakyat. Artinya dari 260 juta penduduk Ada 2,6 juta penduduk yang sangat kaya. Dari 2,6 juta ini 80% nya adalah mata sipit. Atau dua jutaan orang kaya tersebut adalah non-Muslim. Ini berarti dua juta orang kaya menguasai kehidupan 250 jutaan warga.

Turunan dalam dunia bisnis dapat dilihat, kalau berjalan di jalan Sudirman, trus ke menelusuri jalan Thamrin, lihatlah kiri-kanan dengan gedung-gedung menjulang tinggi, lalu kita bertanya siapa yang punya? Satu dua ada milik pemerintah, selebihnya milik konglomerat. Kalau mau ditanya rasnya pasti dengan mudah sebagian besar bukan pribumi. Jangan dulu kita tanya apa agamanya.

Turunan berikutnya adalah siapa yang punya pabrik yang padat modal atau padat karya yang sanggup menampung karyawan sampai ratusan ribu orang? Turun lagi ke bawah, siapa yang menguasai bisnis pariwisata dengan hotel, maskapai? Siapa yang menguasai bisnis properti beserta produk turunannya? begitu juga kalau dilanjutkan pertanyaannya, siapa yang menguasai bisnis pendidikan dan kesehatan? Siapa yang memiliki rumah sakit swasta yang kian menjamur? Begitu juga sekolah swasta yang terang-terangan dengan misi misionaris. Turunan berikutnya dapat ditelusuri dengan kepemilikkan industry farmasi dengan ribuan merk obat-obatan. Jawaban ringkasnya adalah pemilik semua itu adalah bukan PRIBUMI.

Sebagai perbandingan bagaimana lemahnya pribumi dapat dilihat pada aktifitas organisasi kemasyarakatannya, salah satunya Muhammadiyah. Muhammadiyah dikenal dengan organisasi Islam modern yang bergerak dalam bidang pendidikan, sosial, dan kemasyarakatan. Di usianya yang sudah lebih satu abad, Muhammadiyah saat ini memiliki sekitar 45 rumah sakit dan klinik kesehatan. Dengan kondisi seperti itu, Muhammadiyah baru berencana memmbangun pabrik obat-obatan untuk kepentingan beberapa rumah sakit yang dimiliki. Alias tidak punya pabrik obat-obatan. Itu sudah sekelas Muhammadiyah, belum dihitung organisasi lain.

Karena kondisi kehidupan ekonomi yang pincang ini, harapan kaum pribumi adalah tetap terbukanya lapangan pekerjaan untuk menatap hari esok yang labih baik. Sekarang dengan datangnya buruh-buruh kasar dan tenaga professional dari China, maka pasti jatah pekerjaan yang ada untuk pribumi ada disikat oleh pekerja illegal dari China itu. Dus, disini untuk mendapatkan lapangan pekerjaan sulit untuk tidak terjadi konflik horizontal.

AS Mengusir China

Permasalahan sekarang dengan ketimpangan yang demikian parah, mengapa Indonesia menjadi pilihan?

Sterling Seagrave dalam bukunya, Lords of the Rim (1996) yang membahas tentang gurita bisnis China Rantau menjelaskan, sebenarnya sejak abad ke-19 M , Amerika Serikat sudah menjadi pilihan bagi imigran China. Hanya di Negara Paman Sam itu mereka menghadapi tantangan berat. Ada tiga tantangan yang dihadapi imigran China di AS dari dula sampai sekarang.

Pertama, tantangan budaya. Imigran China yang datang ke Amerika, hanya dalam waktu singkat mereka sudah kehilangan budaya China. Karena larut dalam budaya bebas Amerika. Para orang tua China jelas tidak menghendaki perubahan budaya secara drastis ini. Perantau China tetap ingin mempertahankan tradisi Konghucu pada anak-anak mereka. Diantaranya menghormati orang tua dan leluhur China. Untuk membedung arus budaya Amerika yang dahsyat ini, para perantau China membuat kelompok “Pechinan”. Hampir tiap kota yang ada komunitas China, mereka biasanya membentuk pechinan (China Town).

Kedua, masalah pajak. Amerika menerapkan peraturan pajak yang sangat ketat. Setiap warga Amerika dan mereka yang memiliki green card AS wajib membayar pajak ke Amerika dimanapun mereka bekerja. Baik di dalam maupun di luar Amerika. Sistim wajib pajak ketat seperti Amerika ini tidak membuat “happy” imigran China.
Pendatang China ini sangat agresive merambah segala jenis bidang usaha. Mulai dari bisnis illegal seperti penyeludupan, human traficking, pelacuran, narkoba, perjudian, sampai bisnis rumah makan, panti pijat dan laundry. Saegrave (1996) menjelaskan para perantau China ini menyeludupkan manusia masuk Amerika lalu dari Amerika diseludupkan mobil Cadilac, Roll Royce dan barang mewah ke China untuk pejabat dan orang-orang kaya China. Usaha mereka ini mendapat keuntungan berlipat karena illegal dan tidak terendus pejabat bea cukai. Biasanya polisi lepas pantai Amerika sengaja membiarkan penyeludupan itu berjalan untuk beberapa waktu, setelah itu mereka ditangkap, barangnya disita, ditambah membayar pajak yang berat.

Ketiga, sikap brutal Amerika. Gaya koboy dalam film-film Amerika betul-betul mereka terapkan terhadap imigran China. Dengan tantangan budaya dan undang-undang perpajakkan yang ketat, imigran China masuk AS tetap tinggi. Akibatnya lapangan pekerjaan warga kulit putih terancam. Banyak warga kulit putih yang menganggur. Menariknya adalah penyelesaian yang dilakukan. Seperti dikenal dengan Yellow Peril, warga Amerika mengusir China untuk kembali ke negerinya. Caranya adalah dengan menimbulkan kerusuhan, gerombolan masyarakat datang, lalu orang-orang China dibakar hidup-hidup di api unggun, ditembaki seperti menembaki babi yang sudah endemik, hartanya dirampas.

Ketika resesi melanda pantai barat pada 1880-an, lapangan kerja menyempit, di San Francisco dan Seattle, pengusaha kulit putih mengambil pekerja China karena upah murah. Akibatnya gerombolan kulit putih membantai orang China secara sadis. Ribuan orang China lari pulang ke Asia. Lebih separoh orang China meninggalkan Amerika. Data penduduk China pada 1890 ada 107.488 warga China yang tinggal di San Francisco. Tiga puluh tahun kemudian yaitu 1920, jumlah warga China hanya 61.639 orang.

Artinya lebih separoh warga China hengkang dari Amerika. Perlakuan masyarakat AS yang kasar dan sadis ini dibenarkan oleh pemerintah AS. Buktinya perlakuan sadis terhadap China itu diperkuat oleh undang-undang yang bersifat rasis dan disahkan oleh Kongres 1882. Dalam UU itu menegaskan tentang pelarangan masuk semua orang China ke Amerika, kecuali guru, mahasiswa, pedagang, dan wisatawan.

Sekarang dengan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS yang mulai menempati Gedung putih pada 20 Januari 2017 ini imigran China makin takut masuk AS. Seperti diketahui dalam tema kampanye Trump adalah anti terhadap imigran. Maka salah-salah Trump juga akan menggunakan cara-cara koboy untuk mengusir pendatang haram ke AS. Itulah mengapa Asia Tenggara tetap menjadi pilihan utama para pendatang illegal China. Mereka tetap bisa ber “Gong Xi Fa Chai”, leluasa berbinis hitam, aparat mudah disuap dan bebas dari incaran pajak. Bahkan tokoh-tokoh agamanya sangat menghormati orang China.

Wallahu a’lam.

Sumber: suara-islam

Yang Kemarin Pilih Nomor 2 Segera Taubat dengan Memilih Nomor 3

Suaracitizen.com – Dukungan kepada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor urut 3, Anies Baswedan-Sandiaga Uno di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta yang berasal dari relawan maupun tim Agus Harimurti Yodhoyono-Sylviana Murni terus mengalir.

Teranyar, Anies-Sandi kembali mendapatkan kekuatan dari tim Agus-Sylvi se-Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Mereka siap ikut andil dalam memenangkan pasangan nomor urut 3 di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta.
“Yang dulunya berkumpul mendukung nomor 1, sekarang kita dukung pasangan nomor 3. Siapa yang tidak pilih kemarin, ayo dukung nomor 3,” ungkap sesepuh masyarakat Pesanggrahan, KH Ahmad Nawawi dalam sambutannya di aula Yayasan Annajah Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, Sabtu (18/3/2017).

Ia menambahkan, akan terus berupaya menyadarkan masyarakat Pesanggrahan yang telah memilih nomor urut 2 pada putaran pertama agar beralih ke nomor urut 3 saat pencoblosan putaran kedua Pilkada DKI Jakarta.

“Saya ingin menyadarkan yang kemarin pilih nomor 2 segera taubat dengan memilih nomor 3, semoga taubatnya diterima,” pungkasnya

Sumber; okezone

Setelah Dinasihati Cak Nun, Luhut Pandjaitan Minta Bicara Empat Mata

Suaracitizen.com – Budayawan Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun dengan tangan terbuka menyambut Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan yang datang untuk bersilaturahim.

Dikutip dari laman caknun.com, kunjungan LBP tersebut sudah dijadwalkan. Berikut sebagian dari kutipan di laman tersebut.

Seperti telah dijadwalkan, siang kemarin, Jumat, 17 Maret 2017, Menko Kemaritiman RI Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) beserta rombongan tiba di Rumah Maiyah Kadipiro Yogyakarta. Selain silaturahim, perbincangan Cak Nun dan LBP diselingi santap siang yang berlangsung informal dan santai. Meski demikian, Cak Nun merespons dan berbicara apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, serta objektif tentang situasi Indonesia saat ini.

Sebagian yang disampaikan Cak Nun, baru kali pertama didengar LBP. Beberapa kali LBP terkejut dan terperanjat pada logika mendasar dan simpel yang dicontohkan Cak Nun. Salah satunya, jika orang terus-menerus diinjak, suatu saat pasti secara alami akan keluar identitas aslinya. Kalau dia orang Islam, dia akan berteriak Allahu Akbar. Atau kalau dia orang Jawa Timur, dia akan misuh. Sesungguhnya masalah
tidak terletak pada takbir dan misuh, tetapi pada ketidakadilan yang melahirkan penindasan yang terlalu lama. Sekarang orang mengira masalahnya pada takbir atau misuh alias identitas dan saling bertengkar karenanya, padahal bukan di situ masalahnya.
Beberapa kali pula LBP tersenyum lebar oleh contoh-contoh yang ditunjukkan Cak Nun dan merasa yang seperti ini yang perlu didengar elit pemerintah. Pandangan sederhana tapi tajam ini sepertinya memang diperlukan, dan LBP sendiri mengakui pemerintah pusing dibuat oleh situasi-situasi politik saat ini yang asal-usulnya sebagian bermula dari ketidaktepatan dalam memandang masalah dan membaca koordinat, mulai dari perang identitas, tumpang tindihnya orang dalam menggunakan “keris”, “pedang”, dan “cangkul”, dan lain-lain soal.

Cak Nun sendiri menegaskan, yang dibutuhkan saat ini adalah pemimpin yang mengerti “keris” atau pusaka untuk mengayomi semua anak bangsa. Dalam bahasa lain, Cak Nun menyampaikan kepada LBP, bahwa seorang Presiden haruslah lengkap, ya rohaniawan, teknokrat, pemimpin pemerintahan, ya panglima,dan harus berperan sebagai “orang tua”, sebab bangsa ini sedang tidak memiliki “orang tua”. Karena tidak ada “orang tua”, semestinya Presiden menempati posisi itu sehingga ekspresinya kepada rakyat lebih mengayomi, tidak defensif, tidak bertanding, dan tidak menganggap orang lain sebagai musuh.

Setelah berbincang di lantai 2 Rumah Maiyah, LBP meminta beberapa saat untuk berbicara empat mata.

Apapun hasil perbincangan empat mata kedua tokoh ini, kiranya segera dapat mengobati bangsa yang sedang sakit dan nyaris sekarat oleh rangkaian konflik horizontal

Sumber: portal-islam

Bukti Ahok Gak Becus Urus Jakarta: Nantangin Tapi Keok Melulu Lawan Rakyat Kecil

Suaracitizen.com – Lagi-lagi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) keok melawan rakyatnya sendiri.

Seperti diketahui, Kamis, 16 Maret 2017 lalu Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta mengabulkan semua permohonan gugatan Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta (KSTJ) terhadap izin pelaksanaan reklamasi yakni Pulau K, Pulau F dan Pulau I. Putusan untuk Pulau I dibacakan terakhir dan hasilnya menyusul Pulau K dan Pulau F yang sebelumnya telah dikabulkan.

Hal ini menambah panjang daftar kekalahan Ahok. Dalam beberapa kasus sebelumnya juga ia menantang rakyatnya dan kalah telak di pengadilan, seperti yang disampaikan netizen Ardi Wirda Mulia melalui akun Twitternya @awemany.

“Ketika keputusannya berbentur dengan rakyat kecil seperti guru, nelayan, atau korban gusuran, Ahok kalah mulu di pengadilan. Arogansi kuasa,” cuitnya, Jumat 17 Maret 2017.

Berikut data-data yang dapat dihimpu Tim Portal Islam mengenai kekalahan Ahok melawan rakyatnya sendiri:

1. Ahok Kalah, PTUN Kabulkan Gugatan Retno Listyanti (https://metro.tempo.co/read/news/2016/01/07/083733930/ahok-kalah-ptun-kabulkan-gugatan-retno-listyarti)

Kepala Dinas Pendidikan DKI Arie Budiman mencopot Retno sebagai Kepala SMAN 3 lantaran dia menghadiri acara talk show sebuah stasiun televisi swasta saat ujian nasional digelar. Saat itu Retno menghadiri acara tersebut sebagai Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Dalam acara tersebut, Retno membeberkan kecurangan yang terjadi saat UN.

Kehadiran Retno dalam acara tersebut membuat Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berang. Menurut Ahok, sebagai kepala sekolah, Retno melanggar aturan dengan menghadiri acara tersebut. Ahok kemudian meminta Kepala Dinas Pendidikan DKI untuk mencopot Retno.

Tapi pada Kamis 7 Januari 2016, Majelis hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta mengabulkan gugatan mantan Retno Listyarti sehingga Dinas Pendidikan DKI harus mengembalikan jabatan dan nama baik Retno.

2. Warga Bidara Cina Kalahkan Ahok di PTUN (https://metro.sindonews.com/read/1104401/170/warga-bidara-cina-kalahkan-ahok-di-ptun-1461736914)

Warga Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur mengajukan gugatan dengan nomor 59/G/2016/PTUN-JKT terkait dengan penetapan lokasi sodetan Kali Ciliwung yang berubah dari ketentuan sebelumnya tanpa memberitahukan warga.

Dalam pembacaan putusan di PTUN Jakarta, Senin 26 April 2016, majelis hakim memenangkan warga Bidara Cina karena menganggap SK Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama terkait penetapan lokasi untuk pembangunan sodetan Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur telah melanggar asas-asas pemerintahan yang baik.

Setelah melalui proses panjang, gugatan yang diajukan warga Bidara Cina dikabulkan oleh majelis hakim PTUN Jakarta, Rabu 27 April 2016.

3. PTUN Menangkan Gugatan Warga Bukit Duri Terhadap Ahok (http://news.liputan6.com/read/2819887/ptun-menangkan-gugatan-warga-bukit-duri-terhadap-ahok)

Pengadilan Tata Usaha negara (PTUN) Jakarta memenangkan gugatan yang dilayangkan warga Bukit Duri terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Gugatan tersebut terkait kebijakan Ahok yang menggusur warga Bukti Duri untuk normalisasi kali Ciliwung, Kamis, 5 Januari 2017.

Dalam amar putusannya majelis hakim memerintahkan Pemprov DKI Jakarta wajib memberikan ganti rugi yang layak kepada warga Bukit Duri akibat dari diterbitkannya Surat peringatan (SP) 1, 2, dan 3, dihancurkannya rumah-rumah warga, dan dirampasnya tanah-tanah warga tanpa kompensasi yang layak.

Seperti diketahui, warga Bukit Duri digusur secara paksa pada tanggal 28 September 2016 silam.

Kekalahan Ahok secara terus menerus dinilai sebagai bukti tidak kompetennya Ahok sebagai Gubernur. Hal ini dinyatakan oleh netizen Dandy Laksono melalui akun Twitter @Dandhy_Laksono.

“Kekalahan demi kekalahan Gubernur Basuki di pengadilan cukup untuk menarik kesimpulan bahwa ia memang tidak kompeten memutuskan kebijakan publik,” tulisnya, 17 Maret 2017.

 

Sumber: portal-islam

Tak Boleh Pakai Celana Panjang, Rubby Peggy Terpaksa Sholat Pakai Celana Pendek di Polres Jakbar

Suaracitizen.com – Tahanan pemukul pendukung Ahok dinilai didiskriminasi di Polres Metro Jakarta Barat. Dia tak boleh memakai celana panjang dan dibotaki.

Dia adalah Rubby Peggy Prima. Lelaki yang ditahan lantaran memukul Iwan, pendukung Ahok yang heboh berteriak ‘hidup Ahok’ di sebuah gang di kawasan Kalianyar, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat pada Senin (13/3/2017).

Rubby kemudian diringkus aparat Polres Metro Jakbar dan kemudian diberi perlakuan kurang menyenangkan sebagai seorang tahanan.

Ketua Advokad Cinta Tanah Air (ACTA), Krist Ibnu mengaku heran dengan perlakuan Polres Metro Jakbar terhadap kliennya.

“Saya lihat tak ada tahanan lain yang dibotaki. Hanya Rubby saja yang dibotaki. Itu kan diskriminasi,” kata Krist ketika dihubungi Wartakotalive.com, Sabtu (18/3/2017) siang.

Selain itu krist juga heran soal aturan Rubby hanya boleh memakai celana pendek. “Saat Salat selama di tahanan dia jadi tak sah akhirnya,” kata Krist.

Akibatnya Rubby tak bisa menjalani rukun Islamnya saat berada di tahanan Polres Metro Jakarta Barat.

Terkait hal ini, pihak ACTA sudah melaporkannya ke Komnas HAM. Polres Metro Jakbar dianggap telah melanggar hak asasi manusia (HAM).

Sementara Ketua Panwaslu Jakarta Barat, Puadi, mempertanyakan soal tindakan diskriminatif Polres Jakarta Barat terhadap tahanan pemukul pendukung Ahok tersebut.

Hal itu memunculkan pertanyaan terkait netralitas Polres Metro Jakarta Barat dalam Pemilukada DKI Jakarta.

Puadi mengatakan akan mempelajari kasus tersebut. “Kita akan lihat seperti apa pelanggaran Pemilukadanya,” jelas Puadi ketika dihubungi Wartakotalive.com.

Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Pol Rockye Harry ‎Langie membantah dengan tindakan yang dituduhkan ACTA. Ia mengatakan semua tahanan diperbolehkan menggunakan celana panjang.

“Tak benar itu. Itu mengada-ada karena teman kelompok tersebut ditangkap karena kasus pengeroyokan,” kata Roycke ketika dihubungi Wartakotalive.com, Jumat (17/3/2017) sore.

Sedangkan pengamat Kepolisian, Bambang Widodo Umar, mengatakan tak boleh ada perpeloncoan di ruang tahanan kepolisian.

“Apalagi sampai dibotaki begitu tahanannya. Polisi wajib merawat tahanan mulai dari makanannya, kesehatan, etika, prilaku, serta kerapiannya. Semua itu mesti dilakukan untuk tetap menjaga kemanusiaan dan HAM,” kata Bambang.

Bambang mengatakan, pihak internal mesti segera memerika para pejabat Polres Metro Jakbar. “Harus dicari tahu siapa yang menyarankan ada aturan tahanan mesti dibotaki,” kara Bambang.

Selain itu perlu dicari tahu juga terkait aturan hanya boleh memakai celana pendek tersebut. Sebab mengganggu tahanan menjalankan rukun Islam.

Sumber: opinibangsa

Aksi Pasung Semen Jadi Konsumsi Publik Internasional, Masihkah Jokowi Diam?

suaracitizen.com – Puluhan petani asal Pegunungan Kendeng masih melanjutkan aksi Pasung Semen di depan Istana Negara hingga hari ini, Sabtu 18 Maret 2017. Aksi ini dilanjutkan untuk menagih janji Jokowi terkait pembangunan Pabrik Semen Indonesia di Rembang, Jawa Tengah.

Hingga saat ini pun pemerintah belum memberikan respon atas Aksi Pasung Semen tersebut. Bahkan Jokowi lebih suka mengurusi kambingnya yang baru saja melahirkan daripada mengurusi para petani kendeng.

Demikian yang dikatakan pengamat politik Achsin Ibnu Maksum, Sabtu, 18 Maret 2017.

“Harusnya Jokowi membela petani Kendeng dan membatalkan pendirian pabrik semen,” jelas Achsin.

Seorang netizen pun angkat suara atas ketidakpedulian pemerintah terhadap petani Kendeng.

 

Peran Pak Jokowi Memang Luar Biasa

Suaracitizen.com – PONTIANAK – Biasanya, pejabat dari Jakarta yang berkunjung ke daerah akan menikmati makanan di restoran terbaik yang ada di sana. Paling tidak oleh protokoler akan dicarikan tempat makan yang dikemas serapi dan seindah mungkin.

Ocsya Ade CP, Fikri Akbar – Pontianak

Namun tidak untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi). Usai meresmikan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Nanga Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Kamis (16/3), ia lebih memilih makan di rumah makan yang sangat amat sederhana.

Rumah Makan Jember namanya. Letaknya di Jalan Raya Badau, Kabupaten Kapuas Hulu.

Hampir empat kilometer dari perbatasan untuk menjangkaunya.
Kesederhanaan ini diketahui dari salah satu foto yang sempat viral di sosial media.

Foto tersebut menggambarkan Jokowi duduk bersama pejabat lainnya tengah menyantap makan siang. Sekilas dalam foto itu, menunya tampak biasa. Namun agaknya disukai Jokowi.

Dalam foto tersebut, Jokowi ditemani Ibu Negara Iriana, Menteri Kordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung Wibowo.

Di hadapannya, tampak Gubernur Kalbar Cornelis beserta istri dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berserta istri, juga siap menyantap lauk pauk seadanya.

Tak ada yang indah dan istimewa di sekeliling rumah makan ini.

Bahkan meja panjang nomor tiga yang dipilih hanya berlapiskan bekas spanduk banner.

Begitu juga kursi plastik yang mulai menua dan tak berwarna seragam.

Foto viral yang belum diketahui sumbernya ini kemudian dibagikan Jokowi diakun facebook pribadinya. Dilengkapi status:

“Setelah meresmikan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Nanga Badau, Kalimantan Barat, saya dan rombongan mampir di Rumah Makan Jember, Jln. Raya Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, hampir empat kilometer dari perbatasan. Tempatnya cukup sederhana, tapi menunya sangat lengkap. Dari ayam bakar, sop tulang, rawon, soto babat, nasi uduk sampai bakso semua ada di sini. Seiring dengan pembangunan infrastruktur yang merata, ekonominya akan semakin bergairah, kerjasama dengan negara tetangga meningkat dan saya yakin rumah makan di daerah perbatasan ini juga semakin maju seperti kota-kota.”

Wali Kota Pontianak, H. Sutarmidji, SH, M.Hum mengaku bangga memiliki Presiden seperti Ir. H. Joko Widodo (Jokowi).

Belum 2,5 tahun menjabat presiden, mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut sudah lima kali mengunjungi Kota Pontianak.

“Ke Kalbar kalau tidak salah sudah enam kali. Kalau ke Pontianak sudah lima kali. Ini luar biasa. Kalau dulu presiden lima tahun atau 10 tahun, paling cuma sekali dua kali, bahkan sekali ke Pontianak,” kata Sutarmidji didampingi istrinya Lismaryani di sela-sela menyambut kedatangan Presiden Jokowi di Hotel Golden Tulip Pontianak, Kamis (16/3) malam.

Bangganya lagi, walaupun tidak punya agenda khusus di Kota Pontianak, namun Jokowi masih menyempatkan diri untuk datang ke Kota Khatulistiwa.

“Yang jelas beliau acaranya kan di Kapuas Hulu, Sambas dan Mempawah, kalau di Pontianak tidak ada. Tapi kita terima kasih, karena semasa beliau ini banyak sekali memperhatikan Kalimantan Barat, termasuk Kota Pontianak,” ungkap Sutarmidji.

Menurut Sutarmidji, Presiden Jokowi merupakan sosok pemimpin yang sangat perhatian dengan masyarakat dan pembangunan di daerah.

Tak hanya terlihat dari intesitas jumlah kunjungan, namun beberapa program pembangunan terlihat nyata dilakukan.

“Tahun ini dimulai pembangunan Jembatan Landak Paralel, kemudian lanjut water front, pasar waktu beliau datang dulu, sekarang sudah jadi. Ini juga kita terima kasih. Penataan Beting lanjut, penataan Tambelan Sampit lanjut, penataan Benua Melayu Laut lanjut. Ini menunjukkan perhatian beliau cukup besar bagi Kota Pontianak dan Kalimantan Barat,” ungkap Sutarmidji, seperti diberitakan Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group).

Wali kota dua periode ini berharap, perhatian yang sudah dicurahkan selama ini, dapat memacu kinerja pemerintahannya agar lebih baik lagi. Guna menggapai cita-cita pembangunan. (*)

Sumber: jpnn

Fahri Hamzah: Negara Sumber Masalah, Bukan Rakyat

Seringkali Sumber Masalah adalah Negara, bukan Rakyat”

TIPS KORUPSI DI SEBUAH NEGERI :
1. Lakukan Korupsi (Dinikmati).
2. Kalau ketahuan Dibalikin (tanpa bunga).
3. Ditutupi/dilindungi.
4. HIDUP TENANG.

Lama saya menghayati negara: sumber masalah dalam negara adalah negara itu sendiri bukan rakyat.

Negara menciptakan masalah, minta uang dan kewenangan dari rakyat untuk atasi masalahnya sendiri.

Setelah dikasi uang dan kewenangan: uangnya dikorup dan kewenangannya di-abuse.

Untuk hindari itu, negara minta dibentuk lembaga pengawas.

Lalu lembaga pengawas itu minta uang dan kewenangan lagi.

Setelah itu uangnya dikorupsi dan kewenangannya di-abuse lagi. Begitu seterusnya sampai bangkrut.

Kita memerlukan lompatan cara berpikir untuk menuntaskan itu. Memotong lingkaran setan.

Kita memerlukan otak bukan otot. Otot bisa menangkap kejahatan oleh dibawah perut.

Tapi kejahatan yang dimotivasi oleh yang di atas perut memerlukan kecerdasan otak dan hati yang baik.

Ini resep Ibnul Qayyim, fa’tabiru ya ulil albab. Semoga khayalan kita Jumat ini membawa optimisme.

Antara otak, hati dan otot memerlukan keseimbangan. Harus atletis.

Negara sebagai organisasi sosial politik harus didisain secara spektakuler menghadapi kecendrungan manusia modern.

Jika tidak,
Indonesia sibuk kemana,
Dunia sibuk ke mana?
Manusia ada di mana?

Apakah kita akan menjadi pusat perdebatan ini? Apakah otak kita kuat?

Mari kita merenung….

(Twitter @Fahrihamzah, 17/03/2017)

Sumber: portal-islam

Ooww Ketahuan! Ternyata Istri Ketiga Djan Faridz ipar dari Ahok

suaracitizen.com – Ketua Umum PPP Djan Faridz mengaku di-bully mengenai fotonya dengan istri ketiga.

Pasalnya, istri ketiga Djan merupakan ipar calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

“Saya di-bully habis-habisan. Foto saya sama istri. (Dibilang) Djan Faridz itu kakak ipar Ahok dari istri ketiga. Istri ketiga emang kenapa? Ahok itu adik iparnya, salahnya di mana?” kata Djan saat memberikan sambutan dalam acara‎ deklarasi tim saksi relawan Badja Bhineka Tunggal Ika di Jalan Talang, Menteng, Jakarta, Sabtu (18/3).

Djan mengakui bahwa istri ketiganya merupakan keturunan Tionghoa.

Namun, dia menambahkan, istrinya telah menjadi muslim.

“Saya akui istri saya China, tapi beliau masuk Islam. Saya yang mengislamkan. Saya dapat pahala karena mengislamkan istri saya,” tegas Djan.

PPP Djan mendukung pasangan Ahok-Djarot pada Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017.

Djan berseloroh, dia akan menikahi Ahok jika mantan Bupati Belitung Timur itu adalah perempuan.

“Kalau Ahok perempuan gue kawinin juga, jadi istri keempat,” ucap Djan disambut tawa para relawan yang hadir.

Terkait dukungannya, Djan meminta Ahok membuat kontrak politik untuk mendukung umat Islam ketika menjadi pemimpin DKI. Ahok, kata dia, menyetujui hal itu.

Menurut Djan, jika Ahok terpilih kembali menjadi gubernur akan memberikan‎ manfaat untuk umat Muslim.

“Marbut, muazin, ‎ustaz, dan ustazah digaji per bulan. Umat Islam diurusi, apalagi yang lain,” ujar Djan.

Sumber: jpnn

“Benci Bangsa Arab”, Sejarah Ini Tamparan Keras Bagi Megawati, “Tolong Baca Ini Ibu Mega”

Suaracitizen.com – Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dengan berapi-api menyampaikan pidato pada peringatan HUT ke-44 PDIP di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, Selasa (10/1/2017).

Dalam pidatonya, Mega persoalkan orang yang beragama tetapi menanggalkan ke-Indonesiaannya. Ia menyebut, “Kalau mau jadi orang Islam, jangan jadi orang Arab.”

Banyak netizen yang menyayangkan pernyataan Megawati yang dinilai tendensius terhadap Arab.

Bahkan beberapa netizen menyatakan pidato Mega itu rasis.

Padahal kalau kita tengok sejarah, seperti yang digaungkan Bung Karno “Jas Merah” jangan sekali-kali melupakan sejarah, maka Arab dan Dunia Arab begitu banyak membantu negara Indonesia yang baru merdeka.

“Bagi yang gak suka Arab… ketahuilah

Arab gak pernah jajah kita… Arab yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada awal-awal… Arab memberi dukungan moril dan materiil kemerdekaan Indonesia. Itu baru urusan kemerdekaan.

Negara-negara barat yang diagung-agungkan justru bahu membahu silih berganti menjajah Indonesia, membunuhi pemuda-pemuda pejuang kita, memenjarakan pemimpin-pemimpin kemerdekaan kita.

China yang menguasai ekonomu kita sekarang, dulu mereka saling bahu membahu dengan penjajah bahkan kejam terhadap orang-orang asli Indonesia (pribumi).

Ini semua fakta sejarah.”

Ini tulisan Muaz Hd yang terkenal dan tersebar di fb. Sangat pas kalau ibu Megawati baca untuk direnungkan.

Juga ARSIP SEJARAH ini:

Bukti arsip sejarah: SELOEROEH DUNIA ARAB DAN ISLAM BERDIRI DIBELAKANG BANGSA INDONESIA.

Sumber: portal islam