Kenapa masyarakat lebih suka mempost keburukan Polisi daripada kebaikannya?

Screen Shot 2016-08-22 at 8.27.08 PM

Lihat saja. Berita polisi yang berhasil menumpas terorisme di Sarinah hanya bertahan beberapa minggu. Ketika polisi melakukan sebuah kesalahan, beritanya tetap dinaikkan hingga berbulan.

Kemarin, saya membaca postingan di grup polisi, isinya gambar polisi yang sedang membantu menyeberangkan pengguna jalan. Captionnya kira-kira begini: “kalau ada polisi yang beginian, kok yg ngeshare dikit ya, giliran ada polisi nakal, yg ngeshare langsung ribuan”

Sekilas memang nampak ada ketidakadilan yang begitu masif dan terstruktur, namun sesungguhnya, hal itu wajar terjadi. Jadi begini, ke-luarbiasa-an atas profesi seseorang itu muncul kala ia melakukan sesuatu di bawah atau di atas standar hak dan tanggung jawabnya.

Kenapa polisi menyeberangkan pengguna jalan tidak banyak yg ngeshare? ya karena memang itulah salah satu tugas mereka. Mereka dibayar salah satunya untuk itu. Itu hal yang terlalu biasa dan tidak ada wah-wah-nya sedikitpun.

Tentu saja menyeberangkan jalan adalah perbuatan yang baik bagi seorang polisi, tapi hal itu belum cukup untuk bisa masuk dalam ranah luar biasa yg shareable, kenapa? ya sekali lagi, karena memang itu adalah tanggung jawabnya, tugasnya.

Itu hal yang sangat-sangat biasa, sama biasa-nya seperti dokter yang mengobati pasien, atau guru yang mengajar muridnya, mereka dibayar memang untuk itu. Beda kasus kalau guru mengajar di pedalaman dan tidak dibayar, atau dokter yg menggelar pengobatan gratis di luar jam prakteknya, itu baru luar biasa.

Seorang Polisi (dan juga profesi lainnya) dianggap luar biasa (dan layak share), adalah ketika ia melakukan sesuatu yang seharusnya berada di luar hak dan tanggung jawab tugasnya. Saat ada polisi nakal, yang menilang pengguna jalan dengan alasan yang tak masuk akal.

Screen Shot 2016-08-22 at 8.27.20 PM

Ia tentu layak untuk dishare, karena memang ia melakukan hal yang berada di luar haknya. Saat muncul kisah Bripka Junaidin, polisi yang membangun pesantren dengan menyisihkan gaji pribadinya, Ia layak mendapat share (dan buktinya, yg ngeshare memang banyak), karena apa? karena ia luar biasa, ia melakukan sesuatu yang seharusnya berada di luar tanggung jawab prosedur atas profesi yang diembannya.

Atau saat muncul kisah polisi yang membagikan beng-beng untuk setiap pemotor yang memaikaikan helm untuk anak kecil yang diboncengnya, ia polisi yang layak share, karena memberikan beng-beng memang bukan bagian dari job desk-nya, tapi ia rela melakukannya.

Screen Shot 2016-08-22 at 8.27.36 PM

Jadi untuk pak Polisi, kalau memang ingin memperbaiki citra kepolisian dengan memperbanyak rate share di sosial media. Silahkan post kisah-kisah luar biasa dari seorang polisi, tentu kisah yang lebih dari sekadar menyeberangkan pengguna jalan atau membantu mendorong kendaraan yang mogok di tengah jalan.

Cobalah untuk mengangkat kisah polisi yang mborong tamiya dan kemudian dibagi-bagikan ke anak-anak, misalnya. Misal, lho ya… Atau kisah polisi yang rela membuat tuding iqro dari buluh bambu sebagai alat bantu ngaji untuk anak-anak TPA…

Kamu ada saran bagi kepolisian untuk memperbaiki citra mereka? Yuk, bagikan artikel ini di media sosialmu, supaya masyarakat juga lebih berimbang dalam menilai polisi. [HP – Sebarkanlah.com /Keepo.me]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *