Kapal Erdogan Bantu Pasok Listrik Wilayah Terpencil Indonesia, APBN Hemat 350 Milyar

Posted on

Screen Shot 2016-07-23 at 5.52.26 PM

Suaracitizen.com – PT PLN (Persero) menggunakan Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) selama 5 tahun dengan kapasitas 120 megawatt (MW). Kapal tersebut bernama Karadeniz Powership Zeynep Sultan yang didatangkan dari Turki. Tak hanya satu, ternyata PLN menggunakan sebanyak 4 ‘kapal listrik’.

“Ada 4 kapal yang digunakan,” kata Direktur Utama PLN, Sofyan Basir, ditemui di Istana Negara, Kamis (3/12/2015) ansir detik (12/15).

4 ‘kapal listrik’ akan ditempatkan di daerah-daerah yang saat ini kekurangan listrik, yang mengakibatkan pemadaman bergilir ke pelanggan.

“Untuk di Amurang, Medan, Atambua, dan satunya lagi saya lupa,” ucap Sofyan.

Ia mengakui, pemilik atau yang memproduksi ‘kapal listrik’ apung di dunia masih sangat sedikit, yakni baru ada Turki dan Jepang. Ia berharap suatu saat Indonesia mampu memproduksi kapal PLTG apung sendiri.

“Nah itu harapannya, kita bisa bikin 10-20 MW. Kalau itu bisa dibuat, maka solusi untuk daerah terpencil, khususnya kepulauan. Itu pemikiran kami, akan luar biasa kalau industri kita bisa buat,” tutup Sofyan.

Kapal Listrik dari Turki Bikin Indonesia Hemat Rp 350 M

PT PLN (Persero) mengaku bisa menghemat Rp 350 miliar per tahun dengan pengoperasian pembangkit terapung yang dibawa oleh Karadeniz Powership Zeynep Sultan.

“Kita bisa hemat Rp 350 miliar dari Amurang saja,” kata Direktur Utama PLN, Sofyan Basir di lokasi parkir Kapal Karadeniz di IPC Car Terminal, Kalibaru, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (8/12/2015), lansir Detik.

Sementara itu, Kepala Divisi Supply Chain Management PLN, Septa Hamid menjelaskan kapal tersebut mampu menghasilkan listrik 120 megawatt dengan menggunakan bahan bakar jenis Heavy Fuel Oil (HFO). Bahan bakar jenis lebih murah daripada BBM untuk Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).

Penghematan tersebut diperoleh karena biaya pembelian listrik ini jauh lebih murah daripada membeli listrik yang dihasilkan oleh PLTD. PLN membeli listrik dari pembangkit terapung ini Rp 870 per kWh sedangkan harga listrik jauh lebih mahal diberi dari PLTD.

“Selama ini, pembangkit di Sulawesi Utara dan Gorontalo 40% masih pakai PLTD,” tambahnya.

Saat ini, Sulut dan Gorontalo mengalami defisit sampai 60 megawatt. Rata-rata pemadaman terjadi hampir setiap hari. Dengan adanya pembangkit terapung dari kapal listrik Turki ini, defisit bisa diatasi bahkan jaringan Sulut dan Gorontalo mengalami surplus.

“Memang ada surplus suplai daya. Surplus kan nanti dipakai kalau ada pemeliharaan pembangkit lain dan kita perlu jaga saat beban puncak agar tidak ada pemadaman,” sebutnya.

Kapal-kapal pembangkit listrik ini disebar ke wilayah-wilayah krisis listrik seperti Amurang, Belawan, Lombok, Kupang dan Ambon. Satu dari 5 kapal sudah ada di Tanjung Priok dan telah diresmikan pengoperasiannnya oleh Presiden Joko Widodo pada Selasa (08/12) dan dikirim ke Amurang, Minahasa, Sulawesi Utara. Sisa kapal ini akan tiba beberapa bulan ke depan.

Red : Maulana Mustofa