Category Archives: Inspirasi

Membantu Pekerjaan Istri, Termasuk Sunnah Nabi

Screen Shot 2016-09-01 at 2.13.39 AM

Syeikh Utsaimin rohimahulloh berkata:

Diantara tawadhu’nya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam; bila beliau di rumah, beliau membantu isterinya, memeras susu kambing, memperbaiki sandal, beliau membantu mereka di rumah mereka.

Hal ini berdasarkan penuturan Aisyah rodhiallohu ‘anha ketika ditanya apa yang dilakukan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam saat di rumah? “Beliau dahulu dalam pekerjaan isterinya”, yakni membantu
isterinya.

Misalnya, jika seseorang di rumahnya, maka termasuk sunnah, bila dia membuat teh untuk dirinya sendiri, memasak sendiri bila dia bisa, mencuci apa yang butuh dicuci, ini semua termasuk sunnah Nabi.

Jika kamu melakukan hal itu, maka kamu akan mendapatkan pahala menjalankan sunnah.

Karena (kamu melakukan hal itu untuk tujuan) mengikuti Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam- dan bertawadhu’ (merendah) kepada Allah -azza wajall-.

Hal ini juga akan menumbuhkan rasa cinta antara kamu dan isterimu. Jika isterimu merasa kamu banyak membantunya, tentu dia akan mencintaimu dan dirimu akan semakin berharga di matanya. Dan ini merupakan masalahat yang besar.

[Syarah Riyadhus Shalihin2/264]

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Sumber: http://bbg-alilmu.com/archives/21332

Hukumnya bagi Pemberi Harapan Palsu?

Screen Shot 2016-08-29 at 9.35.02 PM

Suaracitizen.com – Dengan terang benderang hadits menyebutkan bahwa Allah memasukkan ke neraka orang yang menahan fauna jadi tidak makan serta tidak minum. Penyiksaan fauna adalah faktor terlarang dalam Islam. Maka bagaimanakah dengan penyiksaan manusia? Menahan manusia hingga tidak memungkinkan makan serta minum?

Pertanyaannya kemudian berlanjut pada bagaimanakah dengan mereka yang memboikot satu kelompok manusia alias bahkan satu bangsa jadi kesusahan untuk makan serta minum? Hebat untuk diteliti oleh para mahasiswa fakultas syari’ah serta hukum mengenai hukum boikot dalam perspektif Islam.

Pertanyaannya dapat digeser pada model yang tidak sama, semacam bagaimana hukumnya lakukanan yang mengdampakkan orang lain kesusahan nasib alias nasib di bawah standar kelayakan? Bagaimanakah dengan suap, korupsi, “upeti” yang dengan cara tidak langsung berimbas pada kesetimpangan ekonomi serta lain sebagainya? Hebat sekali diteliti oleh mahasiswa ekonomi serta hukum mengenai kebijakan yang tidak bijaksana serta kewenangan yang dilaksanakan sewenang-wenang.

Pertanyaan dapat digeser lagi pada model lain, semacam bagaimana dengan pemberi andalan palsu yang sudah “memaksa” seseorang alias tidak sedikit orang bersabar menantikan masa yang dijanapabilan yang nyatanya tidak kunjung menjadi nyata lalu terpuruk terus dalam ke celah ketidakberdayaan hingga tidak dapat makan serta tidak dapat minum?

Bagaimanakah hukumnya janji yang tidak dicocoki semacam itu? Hebat untuk diteliti oleh mahasiswa jurusan janji palsu, bukan?

Inilah Amalan 40 Hari Menuju Kaya dan Rezeki Melimpah

Screen Shot 2016-08-29 at 9.33.09 PM

Suaracitizen.com – Setiap orang pasti ingin mendapatkan rezeki yang banyak. Berbagai cara dilakukan untuk dapat menghasilkan rezeki yang berlimpah. Uztadz Yusuf Mansur di dalam ceramahnya mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin selama kita berusaha. Demikian halnya dengan keinginan menjadi orang kaya, memiliki banyak uang dan rezeki yang berlimpah, bukankah sebenarnya umat muslim itu wajib kaya?

Oleh sebab itu ada riyadhah atau amalan yang jika dilaksanakan secara rutin terus menerus, dengan harapan Allah SWT akan membukakan pintu rezeki-Nya. Pada tahap pembelajaran dimulai selama 40 hari terlebih dahulu. Dan diharapkan setelah 40 hari masih akan terus melaksanakannya dan bahkan lebih ditingkatkan intensitasnya. Seperti halnya Allah melatih kita untuk melakukan ibadah pada bulan Ramadhan selama 30 hari, dengan harapan kita dapat membiasakan untuk mengerjakannya. Dan inti yang sebenarnya ialah untuk merutinkan ibadah sehingga menjadi sebuah kebiasaan. Lalu apa saja iyang harus dilakukan selama 40 hari menuju kaya dan rezeki melimpah? Berikut penjelasannya.

Rutin melaksanakan shalat berjamaah di masjid dan tepat waktu Sebisa mungkin usahakanlah shalat fardhu secara berjamaah di masjid yang disertai dengan shalat sunah qabliyah dan ba’diyahnya. Qabliyah yaitu shalat sunah sebelum shalat wajib sebanyak 2 atau 4 rakaat sebelum subuh sebelum shalat dzuhur, sebelum ashar, 2 rakaat sebelum magrib, dan sebelum Isya. Sementara Shalat sunah Ba’diyah adalah shalat sunat yang dikerjakan setelah shalat fardhu, yaitu 2 rakaat setelah dhuhur, setelah magrib dan setelah isya. Dan jangan lupa mengerjakan shalat tahiyatul masjid sebagai penghormatan kepada masjid. Serta jangan pernah menunda-nunda melaksanakan shalat. Ketika adzan telah berkumandang, segeralah mendatangi mesjid.

Rutin melaksanakan shalat tahajud 8 rakaat dan shalat witir 3 rakaat
Shalat tahajud merupakan salah satu shalat sunat yang paling utama dan dikerjakan pada sepertiga malam minimal 2 rakaat, namun Uztadz Yusuf Mansur menganjurkan untuk mengerjakannya 8 rakaat dan ditambah witir 3 rakaat. Ketahuilah sebenarnya sepertiga malam itu merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa.

Bacalah Surah Al Waqiah

Surat Al Waqiah merupakan

salah satu surat yang bisa memperlancar rezeki. Rasulullah SAW bersabda bahwa, ” Barangsiapa membaca Surah Al Waqiah setiap malam, maka ia tidak akan ditimpa kefakiran selamanya (H.R.Ibn Sunni).
Oleh sebab itu biasakanlah untuk membaca surat ini sesudah shalat subuh atau sesudah shalat isya.

Rutin mengerjakan shalat dhuha

Shalat sunah dhuha merupakan shalat sunah 2 rakaat yang dilaksanakan ketika matahari mulai beranjak naik hingga sebelum dzuhur. Rutinlah melaksanakan dhuha 6 rakaat, dan bagi yang kuat bisa sampai 12 rakaat itu lebih baik.

Rasulullah SAW bersabda di dalam sebuah hadist Qudsi bahwa, “Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat shalat dhuha, karena dengan shalat tersebut, Aku cukupkan kebutuhanmu pada sore harinya.” (HR. Hakim dan Thabrani)

Biasakan membaca zikir sesudah shalat
Setelah melaksanakan shalat, sebaiknya jangan langsung berdiri. Akan tetapi bacalah zikir yang biasa dibaca, ditambah dengan asmaul husnah Ya Fattah ya Razaak sebanyak 11 kali. Kemudian lanjutkan dengan membaca ayat kursi sebanyak 1 kali dan Surat Al Ikhlas sebanyak 3 kali. Rutinkan melaksanakannya setiap selesai shalat. Dan khusus setelah selesai melaksanakan shalat subuh dan ashar, tambah dengan membaca 4 ayat terakhir pada Surat Al Hasyr.

Rutin membaca zikir ini
Biasakan untuk membaca Laa hawla wala quwwata illaa billah sebanyak 300 kali, bisa juga 100 kali setiap hari

Rutin mohon ampun
Kemudian bacalah istighfar sebanyak 100 kali setiap hari. Karena bisa saja kita berbuat dosa yang disadari maupun tidak.

Rutin membaca zikir pagi dan petang
Jangan lupa setiap hari membaca subhanallahi wabihamdihii subhanallahil adzhim sebanyak 100 kali di pagi hari dan 100 kali di sore hari. Boleh juga dilakukan setelah shalat dhuha dan untuk sorenya setelah melakukan shalat ashar ataupun menjelang magrib

Rutin baca yasin

Biasakan untuk membaca surat ke 36 Al Quran ini sebanyak 1 kali setiap harinya. Waktunya terserah, bisa dilakukan kapan saja.

Tutup malam dengan shalat sunat 2 rakaat
Saat kantuk menyerang, sebaiknya jangan langsung tidur tetapi laksanakanlah shalat sunat 2 rakaat sebelum tidur. Kemudian bacalah Surat Al-Kafiruun pada rakaat pertama dan Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Setelah itu jangan lupa untuk membaca Surat As Sajdah, Al-Mulk atau Ar-Rahman (pilih salah satu).

Lakukanlah amalan-amalan ini rutin selama 40 hari. Dan uahakan jangan ada yang tertinggal. Untuk membantu mengerjakannya bisa dibuatkan daftar list untuk mengecek adakah amalan yang tertinggal. Bagi wanita yang sedang haid bisa berhenti sejenak dan melanjutkan setelah suci. Serta niatkan dan mohonkan rezeki yang banyak dan bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

Sumber: palingyunik.blogspot.co.id

Manjurnya Doa Orang-Orang Yang Tersakiti

Screen Shot 2016-08-29 at 9.30.05 PM

Suaracitizen.com – Manjurnya doa orang-orang yang tersakiti – Selain terdapat waktu-waktu tertentu yang akan membat dia kita dengan mudah untuk dikabulkan olah Allah, maka ada juga keadaan di mana doa seseorang dapat dengan muah terkabul.

Manjurnya Doa Orang-Orang Yang Tersakiti Selain doa dari seorang ibu dan doa seorang istri yang dapat dengan mudah terkabul, maka doa bagi mereka yang terzalimi juga termasuk kedalam doa yang mustajab.

Telah banyak dikatakan bahwa bagi orang-orang yang sedang teraniaya dan terzalimi tidak perlu merasa putua asa dan terpuruk dalam menghadapi kekuatan dan keperkasaan dari para penganiayanya, hal ini karea mereka telah dijanjikan oleh Allah akan mendapatkan pembelaan, pertolongan dan juga perlindungan untuk melawan para penganiayanya.

Tentunya cara untuk mendapatkan pertolongan tersebut adalah dengan cara berdoa. Dan sebaliknya, bagi orang yang menganiayanya maka haruslah berhati-hati dan merasa dengan doa dari orang-orang yang terniaya karena doanya akan dikabulkan dan dibela serta dilindungi oleh Allah. Bahkan hal ini telah tertulis dengan jelas dalam QS an Nisa ayat 148 yang berbunyi :

لا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا (١٤٨) إِنْ تُبْدُوا خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا

148. Allah tidak menyukai Ucapan buruk[371], (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya[372]. Allah adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Dalam firman Allah tersebut, seolah dijelaskan bahwa Allah melegalkan perbuatan buruk dan juga sumpah serapah dari orang-orang yang teraniaya dan bahkan hal tersebut dikaakan sebagai doa. Di tangan orang-orang terzalimi tersebut doa bisa diibaratkan sebagai sesuatu yang lebih tajam dari pada pedang dan dar pasukan bersenjata sekalipun.

Sehingga berhati-hatilah terhadap orang-orang yang terzalimi. Dalam sebuah hadist juga disebautkan bahwa ““Hati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada suatu penghalang pun antara doa tersebut dan Allah.” (HR Bukhari).

Namun tentunya sebagai umat yang beriman akan lebih baik jika kita bisa menjadi seseorang yang mudah memaafkan ketika kita sedang dizalimi oleh seseorang.

Karunia Allah Kepada Manusia: PEMIMPIN YANG ADIL

Screen Shot 2016-08-29 at 9.00.52 PM

Suaracitizen.com – Allah menurunkan karunia kepada umat manusia dengan menegakkan kepemimpinan yang adil.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu telah meriwayatkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الإِمَامُ العَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يَفْطُرَ وَدَعْوَةُ المَظْلُوْمِ

“Tiga doa yang tidak tertolak: Doa pemimpin yang adil, orang yang puasa hingga berbuka, dan doa orang yang dizhalimi” [HR. at Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, no. 1432]

Diriwayatkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ

“Tujuh orang yang akan dinaungi Allah pada hari yang tiada naungan selain naungan-Nya: (1) Seorang imam yang adil…. .” [HR. Bukhari dan Muslim]

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Amal sehari seorang imam yang adil terhadap rakyatnya, lebih utama daripada ibadah seorang ahli ibadah di tengah keluarganya selama seratus atau lima puluh tahun.”

Qeis bin Sa’ad berkata, “Sehari bagi imam yang adil, lebih baik daripada ibadah seseorang di rumahnya selama enam puluh tahun.”

Masruq berkata, “Andaikata aku memutuskan hukum dengan hak sehari, maka itu lebih aku sukai daripada aku berperang setahun fi sabilillah.”

Diriwayatkan bahwa Sa’ad bin Ibrâhîm, Abu Salamah bin Abdurrahmân, Muhammad bin Mush’ab bin Syurahabil dan Muhammad bin Shafwan berkata kepada Sa’id bin Sulaiman bin Zaid bin Tsabit: “Menetapkan hukum secara hak satu hari, lebih utama di sisi Allah, daripada shalatmu sepanjang umur”.

Kebenaran perkataan ini akan nampak jelas, jika melihat kebaikan yang didapatkan rakyat karena kebaikan pemimpinnya.

Wahab bin Munabbih rahimahullah berkata, “Apabila seorang pemimpin berkeinginan melakukan kecurangan atau telah melakukannya, maka Allah akan menimpakan kekurangan pada rakyatnya di pasar, di sawah, pada hewan ternak dan pada segala sesuatu. Dan apabila seorang pemimpin berkeinginan melakukan kebaikan dan keadilan atau telah melakukannya niscaya Allah akan menurunkan berkah pada penduduknya.”

Khalifah Umar bin ‘Abdul-Aziz rahimahullah berkata, “Masyarakat umum bisa binasa karena ulah orang-orang (kalangan) khusus (para pemimpin). Sementara kalangan khusus tidaklah binasa karena ulah masyarakat. Kalangan khusus itu adalah para pemimpin. Berkaitan dengan makna inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu” [QS Al-Anfâl: 25].

Al-Walid bin Hisyam berkata, “Sesungguhnya rakyat akan rusak karena rusaknya pemimpin, dan akan menjadi baik karena baiknya pemimpin.”

Sufyan ats-Tsauri berkata kepada Abu Ja’far al-Manshur (Khalifah kedua Bani Abbasiyah): “Aku tahu, ada seorang

lelaki yang bila ia baik, maka umat akan baik; dan jika ia rusak, maka rusaklah umat.” Abu Ja’far al-Manshur bertanya: “Siapa dia?” Sufyan menjawab: “Engkau!”

Pemimpin yang paling baik ialah pemimpin yang ikut berbagi bersama rakyatnya. Rakyat mendapat bagian keadilan yang sama, tidak ada yang diistimewakan. Sehingga pihak yang merasa kuat tidak memiliki keinginan melakukan kezhalimannya. Adapun pihak yang lemah tidak merasa putus asa mendapatkan keadilan. Dalam sebuah kata-kata hikmah disebutkan: “Pemimpin yang baik, ialah pemimpin yang orang-orang tak bersalah merasa aman dan orang-orang yang bersalah merasa takut. Pemimpin yang buruk, ialah pemimpin yang orang-orang tak bersalah merasa takut dan orang-orang yang bersalah merasa aman.”

Khalifah Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada al-Mughirah ketika mengangkatnya menjadi gubernur Kufah: “Hai Mughirah, hendaklah orang-orang baik merasa aman denganmu dan orang-orang jahat merasa takut terhadapmu.”

Dalam sebuah kata-kata hikmah disebutkan: “Seburuk-buruk harta, ialah yang tidak diinfakkan. Seburuk-buruk teman, ialah yang lari ketika dibutuhkan. Seburuk-buruk pemimpin, ialah pemimpin yang membuat orang-orang baik takut. Seburuk-buruk negeri, ialah negeri yang tidak ada kemakmuran dan keamanan. Sebaik-baik pemimpin, ialah pemimpin yang seperti burung elang yang dikelilingi bangkai, bukan pemimpin yang seperti bangkai yang dikelilingi oleh burung elang.”

Seorang pemimpin, hendaklah juga memiliki sifat pemaaf. Maaf dari orang yang kuat adalah fadhilah. Sifat pemaaf yang dimiliki pemimpin, ibarat mahkota bagi seorang raja. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”. [al-A’râf/7:199].

Seorang pemimpin hendaklah memiliki sifat kasih sayang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Sayangilah orang-orang di bumi, niscaya Allah yang ada di langit akan menyayangimu”. [HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 1924]

Orang yang paling berhak menjadi pemimpin ialah yang paling kasih lagi paling penyayang. Sebaik-baik pemimpin ialah yang bisa menjadi teladan dan pemberi hidayah bagi rakyatnya, dan seburuk-buruk pemimpin ialah pemimpin yang menyesatkan. Dahulu dikatakan, bahwa rakyat berada di bawah agama pemimpinnya. Jika bagus agama pemimpinnya, maka bagus pulalah agama rakyatnya. Jika kacau agama pemimpinnya, maka kacau pulalah agama rakyatnya.

Dalam hadits Tsauban Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَتَخَوَّفُ عَلَى أُمَّتِي أَئِمَّةً مُضِلِّينَ

“Sesungguhnya, yang paling aku khawatirkan atas dirimu ialah imam-imam/pemimpin-pemimpin yang menyesatkan”. [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, ia berkata: Hadits ini hasan shahîh]

Umar Ibnul-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seorang yang amanat tidak akan berkhianat. Hanya saja pengkhianat diberi amanat, lantas wajar saja kalau ia berkhianat.”
Wallahu a’lam bish-Shawab.

*Sumber: https://almanhaj.or.id/2728-pemimpin-ideal.html

Dibayar 150 Ribu, Preman Relawan Jokowi Kuasai Kampus Trisakti

Screen Shot 2016-08-26 at 2.36.43 AM

Suaracitizen.com – Sekitar 75 orang diduga preman yang digiring ke Polda Metro Jaya dari kampus Universitas Trisakti, Grogol Jakarta Barat ternyata adalah orang bayaran. Mereka mengaku akan mendapat bayaran Rp150 ribu dari seseorang.

Selain itu, salah satu preman yang dibayar itu, Budi, memegang kartu pers. Saat ditanya, preman itu mengaku menemukan kartu pers tersebut di jalan.

“Saya dapat nemu di jalanan. Tapi itu sudah setahunan yang lalu,” ujarnya di depan SPKT Polda Metro Jaya, Rabu (24/8/2016), seperti dikutip Sindonews.com.

Menurutnya, dia lalu menyimpanya dan selalu membawanya. Id card bahkan diganti fotonya menggunakan foto dirinya. Fotonya itu ditempelkan foto foto pemilik kartu tersebut.

Selain kartu pers itu, tambah Budi, dia pun mengaku memiliki kartu relawan Jokowi yang dipakainya saat pencalonan Presiden dahulu.

Dalam kasus Trisakti ini, dia pun hanya diminta datang dan mengumpulkan massa saja. Dia dibayar Rp 150 ribu, tapi uang tersebut belum diperolehnya.

“Saya juga punya kartu Jokowi, saya punya banyak kartu. Kartu itu waktu saya disuruh mencari relawan. Pokoknya kalau mau tahu banyak cari saya di belakang gedung DPR/MPR,” katanya.

Untuk kasus sengketa Trisakti, lanjut Budi, dirinya dibayar Rp150 ribu untuk mengumpulkan massa dan akan dibayar lunas selesai aksi.

“Satus seket mas (Rp 150 ribu) tapi itu belum dibayar, Mas. Baru dibayar Rp1 juta uang transport,” ujarnya. (suara-islam)

RENUNGKAN INI JANGAN SAMPE TERLAMBAT !! Karena KARIR dan RIZKIMU Terletak Pada Istri Mu – SHARE!!

Screen Shot 2016-08-24 at 9.22.40 PM

Bismillahir Rahmaanir Rohim, Subhanallah Walhamdulillah… Kisah ini saya dapat tanpa sengaja. Beberapa tahun yang lalu, tepatnya sekitar tahun 1994-an saat saya berangkat kuliah, saya bertemu dengan orang yang memberikan wejangan ini. Silahkan baca dengan seksama, semoga bermanfaat bagi kita.

Hari itu saya terburu-buru berangkat ke tempat kuliah, maklum hari itu saya agak terlambat padahal hari itu mata kuliah favorit saya. Saat hujan turun tiba-tiba, saya baru sadar kalau lupa membawa mantel, akhirnya berteduhlah saya di sudut sebuah warung.

Di tempat itu saya berkenalan dengan seorang yang sangat baik, dia seorang menantu kyai pemilik pondok pesantren. Obrolan kami tambah seru saat menginjak materi rejeki bagi manusia.
Pekerjaan dia adalah pekerjaan serabutan. Dia tidak memiliki pekerjaan tetap, tetapi dia bersyukur bisa mencukupi kebutuhan keluarganya dengan baik. Sandang, pangan, dan perhiasan untuk istrinya selalu tercukupi tanpa kekurangan. Itulah misteri rejeki mas, Kata

orang itu pada saya.

Saat saya tanya apa rahasianya rejeki dia selalu berlimpah, jawaban dia terletak pada selalu bersyukur, dan terpenting jangan pernah sedikitpun menyakiti atau membuat kecewa istri. Itu wejangan yang selalu diberikan oleh mertua saya, dan saya membuktikan sendiri sampai sekarang, kata orang itu dengan wajah serius.

Dengan selalu bersyukur, bahkan saat terkena musibah sekalipun, kenikmatan yang akan kita terima akan ditambah oleh Allah. Itu janji Allah, bukan main-main mas, kata orang itu. Janji Allah
tentang umatnya yang mau bersyukur memang sering kita dengar dalam berbagai kotbah atau ceramah agama.

Jika kita mau menghitung berapa nikmat yang diberikan Allah pada kita, pasti tidak akan pernah habis. Itulah gambaran rasa syukur yang harus kita ungkapkan, tapi terkadang banyak manusia yang lupa mensyukuri nikmat tersebut.

Berikutnya jangan sakiti istri kita. Inilah poin yang saya pegang terus sampai sekarang. Pekerjaan seorang istri adalah pekerjaan terberat dalam keluarga. Seorang istri harus selalu melayani suami, melahirkan dengan taruhan nyawa.

Membesarkan anak dengan susah payah, terkadang rela mengorbankan waktunya agar anaknya bisa tumbuh sehat dan berbagai pengorbanan yang tak terhitung saat harus berusaha memenuhi serta melayani kebutuhan suami dan anak-anaknya. Dengan melihat beratnya tugas sang istri di atas, tegakah anda menyakiti istri anda?

Menurut orang yang saya kenal tersebut, banyak tidaknya rejeki yang dia terima terkadang tergantung pada perlakuannya pada sang istri. Saat dia keluar rumah mencari sesuap nasi dengan niat membahagiakan istrinya (saat itu dia belum punya anak), rejeki yang dia terima hari itu pasti banyak.

Sebaliknya jika saat berangkat mencari nafkah dia sebelumnya menyakiti hati istrinya, terkadang dia tidak mendapat hasil apapun yang bisa dibawa pulang.
Kisah di atas mungkin terkesan dibuat-buat, tetapi saya baru sadar dan merasakan sendiri saat saya sudah berkeluarga. Apa yang saya alami sama persis dengan yang dialami orang yang saya kenal beberapa tahun yang lalu tersebut.

Istri memang mempunyai peranan sangat besar dalam mendatangkan rejeki bagi kita. Mungkin doa istri mempunyai kekuatan yang dahsyat bagi sebuah keluarga. Pesan saya, jangan pernah sedikitpun menyakiti hati istri kita jika ingin rejeki kita berlimpah. Semoga kisah ini berguna bagi kita semua.

Subhanallah…Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami..
Demikianlah kisah tentang cara mendatangkan rezeki, silahkan bagikan semoga bermanfaat.

Sumber : akhwatindonesia.net

Daripada Full Day School, Mending Mondok di Pesantren, Setuju “Share ya”

Screen Shot 2016-08-24 at 9.19.59 PM

Suaracitizen.com – Baru saja pelaksana pendidikan di Indonesia dibuat ribet dengan perubahan kurikulum. Nasib guru yang selalu terombang-ambing karena perubahan kebijakan yang tidak jelas arahnya. Belum lagi perlakuan yang tidak pantas untuk guru dari murid dan orang tuanya. Kini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhajir Effendy mewacanakan program full day school, anak harus ada di sekolah dari pagi hingga sore.

Soal full day school, Ketua PW Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta, Aris Adi Leksono menjelaskan, sesungguhnya program itu bukan hal yang baru. Bagi kalangan pesantren dan basis Nahdliyin mendidik anak dengan totalitas waktu dan daya dukung lainnya sudah ada sejak zaman dulu.

“Pesantren bukan sekedar full day, tapi thuluz zaman atau belajar sepanjang hayat sehingga karakter dan pengetahuan yang didapat menjadi matang dan tuntas (mastery learning),” ujar Aris.

Lebih lanjut, Aris menuturkan jika program menteri tersebut jadi dilakukan, pihaknya yakin akan menambah daftar trial and error sistem pendidikan nasional. Alasannya, kondisi sekolah kita masih banyak yang belum siap, sarana belum memadai, sistem pendidikan yang belum siap, sistem pembelajaran, dan masih banyak kendala teknis
lainnya.

“Lebih baik memperkuat sistem yang ada, sudah jelas pesantren adalah sistem pendidikan khas Nusantara. Full day di pesantren lebih bermakna daripada di sekolah, mending Kemdikbud ikut kampanye Ayo Mondok,” terang Guru di MTsN 34 Jakarta itu.

Menurut Aris, Mendikbud harusnya lebih fokus pada pengembangan kurikulum dan pemerataan kompetensi guru, sehingga pelayanan standar pendidikan nasional dapat dirasakan seluruh pelosok negeri. Menurutnya, pemerintah harus mulai ‘taubat’ dari program pencitraan yang justru meresahkan masyarakat dan tidak jelas arahnya.

Belum lagi irisan akibat pelaksanaan program tersebut, karena tidak sedikit anak yang harus belajar agama di Madrasah Diniyah usai pulang sekolah. Madrasah Diniyah memiliki peran strategis untuk penanaman nilai agama bagi anak dan usia remaja. Belum lagi interaksi sosial anak menjadi terbatas, terutama dalam upaya pengembangan minat dan bakat anak di luar sekolah.

Dalam hal ini, Pergunu DKI Jakarta sebagaimana tradisi pesantren berharap Mendikbud istikhoroh dulu. Selain itu, sebuah program lebih baik melalui riset terlebih dahulu sebelum wacana itu menjadi kebijakan. Bukan serta merta langsung diterapkan, apalagi dijadikan pilot project.

“Jika hasilnya baik, tidak masalah mengadopsi sistem pesantren yang sudah menjadi keunggulan sistem pendidikan Indonesia sejak dulu,” pungkas Wakil Ketua STAINU Jakarta ini.

Semoga Informasi ini bermanfaat untuk kita semua tolong bantu share bila anda peduli sahabat yang lain.

(NU Online/Abdul Wahab)

Pahala Berdoa 60 Tahun Tapi Ditolak Oleh Allah Karena Hal Ini – Jangan Sampai Terjadi Pada Anda!!

Screen Shot 2016-08-23 at 10.57.13 PM

Suaracitizen.com – Memang sudah sewajarnya manusia mempunyai rasa rendah diri dan selalu mengakui kelemahan mereka hanya dihadapan Allah SWT yang maha pencipta dan maha segalanya. Karena memang dialah sebaik-baiknya pencipta yang memiliki kuasa untuk melakukan segala sesuatunya karena memang semua atas kehendak darinya. Merendahkan diri dihadapannya lah merupakan kemuliaan dan sebaik-baiknya sikap seorang manusia dihadapan Allah SWT. Tetapi jika kebalikannya atau melakukan itu dihadapan sesama makhluk juga itu merupakan kerendahan yang sebenar-benarnya.

Jika di hadapan sesama manusia yang harus dilakukan yaitu rendah hati. Karena semua manusia memiliki derajat yang sama dihadapan Allah SWT. Yang dapat membedakan hanyalah keimanan dan ketakwaan seseorang tersebut kepada Allah SWT. Manusia harus bersikap rendah hati kepada sesamanya untuk menghindari seseorang tersebut dari berlaku sombong terhadap sesamanya.

Imam Ahmad bin Hanbal bercerita, bahwa seorang hamba Allah SWT yang telah dengan rajin beribadah selama tujuh puluh tahun lamanya. Suatu ketika, ia duduk bersimpuh untuk mengadu kepada sang pencipta menyampaikan betapa sedikitnya amalan dan telah banyaknya dosa yang telah ia kerjakan selama ini. karena pengakuannya itulah, datang utusan dari Allah SWT yang menyampaikan kepadanya atas kalam tuhannya, “dudukmu saat ini lebih aku cintai daripada amalan-amalanmu yang telah lewat sepanjang umurmu saat ini.”

Terkadang kita sebagai manusia pun sering khilaf dan lupa diri, bahwasanya kita sebagai manusia secara tidak sadar sering melakukan kesombongan dalam beribadah ataupun dalam memanjatkan doa. Sebagai contoh kita sering merasa bahwa diri kita adalah yang paling sempurna dalam hal melakukan amal sholeh dibandingkan dengan yang dilakukan oleh orang lain. sebagaimana kisah iblis yang diusir dari surga karena merasa diciptakan sebagai makhluk yang sempurna, sedangkan adam terlihat jauh kurang sempurna bahkan terlihat hina dihadapannya.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah bercerita di kisah lainnya, seperti yang telah ada dari Kitab az-Zuhd. Katakanlah seorang dari kalangan Bani Israel yang telah beribadah selama enam puluh tahun lamanya, lalu seorang yang ahli ibadah ini memanjatkan permintaan atau doa kepada Allah SWT. Tetapi sayangnya doa yang selalu ia panjatkan tersebut tak kunjung terkabulkan.

Lalu ia berkata kepada dirinya sendiri, “andai saja engkau (yang dimaksud disini yaitu dirinya sendiri) memiliki kebaikan, tentu saja permintaanmu itu akan terkabulkan.” Pada saat itu, ia benar-benar merasa bahwa dirinya tersebut tidak memiliki kebaikan. Akibatnya itulah yang menjadikan keinginannya tidak dipenuhi oleh Allah SWT padahal ia telah memintanya. Setelah itu, pada malam harinya ahli ibadah ini bermimpi. Ia didatangi oleh seorang yang berkata, “tahukah engkau?” tanya orang yang ada didalam mimpi cerminan.com tersebut yang bisa disebut utusannya, “rasa bersalahmu terhadap dirimu sendiri itu lebih baik dari ibadah yang telah engkau lakukan selama puluhan tahun in.” Merasa rendah dihadapan Allah SWT adalah sebuah kemuliaan yang merupakan sebuah pengakuan yang tulus bahwa hanya Allah SWT yang maha kuasa, dengan ketaatan yang dilakukan oleh seseorang ini lah yang hanya bisa dilakukan atau dikerjakan oleh mereka yang menjadi orang yang telah dipilihnya. Tahukah engkau apa saja kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam berdoa?

Menyepelekan kekhusyukan dan perendahan diri di hadapan Allah ketika berdoa.

Allah ta’ala berfirman,

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (Q.S. Al-A’raf:55)

Allah ta’ala juga berfirman,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) segala kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (Q.S. Al-Anbiya’:90)

Seseorang yang berdoa seharusnya bersikap khusyuk, merendahkan diri di hadapan Allah, tawadhu’, dan menghadirkan hatinya. Kesemua ini merupakan adab-adab dalam berdoa. Seseorang yang berdoa juga selayaknya memendam keinginan mendalam agar permohonannya dikabulkan, dan dia hendaknya tak henti-henti meminta kepada

Allah. Sekiranya, dia selalu ingin menyempurnakan doanya dan memperbagus kalimat doanya, agar doa tersebut terangkat menuju Al-Bari (zat yang Maha Mengadakan segala sesuatu), dan itu dilakukannya hingga Allah mengabulkan doa itu.

Putus asa, merasa doanya tidak akan terkabul, serta tergesa-gesa ingin doanya segera terwujud.

Sikap-sikap semacam ini merupakan penghalang terkabulnya doa. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

يستجاب لأحدكم ما لم يعجل يقول دعوت فلم يستجب لي

“Doa yang dipanjatkan seseorang di antara kalian akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa. Dirinya berkata, ‘Aku telah berdoa namun tidak juga terkabul.’”

Telah diketengahkan, bahwa seseorang yang berdoa sepatutnya yakin bahwa doanya akan dikabulkan, karena dia telah memohon kepada Dzat yang Paling Dermawan dan Paling Mudah Memberi.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

”Dan Rabbmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.”

(Q.S. Al-Mu’min:60)

Barang siapa yang belum dikabulkan doanya, jangan sampai lalai dari dua hal:

Mungkin ada penghalang yang menghambat terkabulnya doa tersebut, seperti: memutus hubungan kekerabatan, bersikap lalim dalam berdoa, atau mengonsumsi makanan yang haram. Secara umum, seluruh perkara ini menjadi penghalang terkabulnya doa.
Boleh jadi, pengabulan doanya ditangguhkan, atau dia dipalingkan dari keburukan yang semisal dengan isi doanya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu,

أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” ما من مسلم يدعو بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعة رحم إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث : إما أن يعجل له دعوته وإما أن يدخرها له في الآخرة وإما أن يصرف عنه من السوء مثلها ” قالوا : إذن نكثر قال : ” الله أكثر “

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak pula pemutusan hubungan kekerabatan, melainkan Allah akan memberinya salah satu di antara tiga hal: doanya segera dikabulkan, akan disimpan baginya di akhirat, atau dirinya akan dijauhkan dari keburukan yang senilai dengan permohonan yang dipintanya.” Para shahabat berkata, “Kalau begitu, kami akan banyak berdoa.” Rasulullah menanggapi, “Allah lebih banyak (untuk mengabulkan doa kalian).” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya’la dengan sanad jayyid; hadits ini berderajat sahih dengan adanya beberapa hadits penguat dari jalur ‘Ubadah bin Shamit yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Hakim, serta dari jalur Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya)

Berdoa dengan kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta bertawasul dengannya.

Tindakan ini merupakan salah satu bentuk bid’ah dan bentuk kelaliman dalam berdoa. Dasarnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan cara berdoa semacam itu kepada seorang shahabat pun. Ini membuktikan bahwa berdoa dengan menggunakan kedudukan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertawasul dengan para pemilik kedudukan adalah amalan bid’ah, serta merupakan sebuah cara ibadah baru yang dikarang-karang tanpa dalil. Demikian juga dengan segala bentuk sarana yang berlebih-lebihan (ghuluw) yang menyebabkan doa terhalang untuk terkabul.

Adapun riwayat,

اسألوا بجاهي فإن جاهي عند الله عظيم

“Bertawasullah dengan kedudukanku! Sesungguhnya, kedudukan sangat mulia di sisi Allah,”

maka riwayat ini merupakan sebuah kedustaan besar atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak sahih disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bersikap lalim dalam berdoa, misalnya: doa yang isinya perbuatan dosa atau pemutusan hubungan kekerabatan.

Sebagaimana tiga perkara yang disebutkan, perkara keempat ini juga menjadi salah satu penghalang terkabulnya doa seorang hamba. Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

سيكون قوم يعتدون في الدعاء

“Akan muncul sekelompok orang yang lalim dalam berdoa.” (H.R. Ahmad, Abu Daud, dan yang lainnya; hadits hasan sahih)

Allah ta’ala berfirman,

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (Q.S. Al-A’raf:55)

Contoh sikap lalim: berdoa agar bisa melakukan dosa, agar bencana ditimpakan, atau supaya hubungan kekerabatan terputus. Sebagaimana hadits riwayat At-Tirmidzi dan selainnya dari Ubadah bin Shamit, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما على الارض مسلم يدعو الله بدعوة إلا آتاه الله إياها ، أو صرف عنه من السوء مثلها ، ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم

“Di muka bumi ini, tidak ada seorang muslim pun yang memanjatkan doa kepada Allah melainkan Allah pasti akan memberi hal yang dipintanya atau Allah akan memalingkannya dari keburukan yang senilai dengan isi doanya, sepanjang dia tidak memohon doa yang mengandung dosa atau pemutusan hubungan kekerabatan.” (H.r. Turmudzi dan Ahmad; dinilai sebagai hadits hasan-shahih oleh Al-Albani)

Saudariku, bersabarlah dalam menanti terkabulnya doa, perbanyak amalan saleh yang bisa menjadi sebab terwujudnya doa, dan jauhi segala kesalahan yang bisa menyebabkan doa tidak kunjung terkabul. Semoga Allah merahmati kita ….

Kita pungkasi tulisan ini dengan memohon kepada Allah, agar Dia tidak menolak doa kita.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, juga dari doa yang tidak terkabul.”

(H.R. Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i; hadits sahih)

Demikianlah sedikit ulasan tentang bagaimana doa yang dapat terkabulkan, semoga dapat bermanfaat dan memberikan tambahan wawasan kepada para pembaca.

Baca Sampai Tuntas Kalau Berani, Kisah Berujung Maut Untuk Para Suami dan Istri

Screen Shot 2016-08-23 at 10.54.29 PM

“Assalaamu’alaikum…!” Ucapnya lirih saat memasuki rumah.
Tak ada orang yang menjawab salamnya. Ia tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah tidur. Biar malaikat yang menjawab salamku,” begitu pikirnya.

Melewati ruang tamu yang temaram, dia menuju ruang kerjanya. Diletakkannya tas, ponsel dan kunci-kunci di meja kerja.
Setelah itu, barulah ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Sejauh ini, tidak ada satu orang pun anggota keluarga yang terbangun. Rupanya semua tertidur pulas.
Segera ia beranjak menuju kamar tidur. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar, ia tidak ingin mengganggu

Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadirannya.
Kemudian Amin duduk di pinggir tempat tidur. Dipandanginya dalam-dalam wajah Aminah, istrinya.
Amin segera teringat perkataan almarhum kakeknya, dulu sebelum dia menikah.
Kakeknya mengatakan, jika kamu sudah menikah nanti, jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan maumu. Karena kamu pun juga tidak sama persis dengan maunya.
Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu. Karena suami istri adalah dua orang yang berbeda. Bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi.
Jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, maka lihatlah ketika istrimu tidur….
“Kenapa Kek, kok waktu dia tidur?” tanya Amin kala itu.
“Nanti kamu akan tahu sendiri,” jawab kakeknya singkat.

Waktu itu, Amin tidak sepenuhnya memahami maksud kakeknya, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena kakeknya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri.
Malam ini, ia baru mulai memahaminya. Malam ini, ia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaan di dadanya. Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat. Pancaran tulus dari kalbu.
Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan. Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.
Dalam batin, dia bergumam,
“Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis yang leluasa beraktivitas, banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Aku yang menjadikanmu seorang istri. Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit. Memberikanmu banyak batasan, mengaturmu dengan banyak aturan.
Dan aku pula yang menjadikanmu

seorang ibu. Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan. Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku.
Wahai istriku, engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun tanpa beban, aku yang memberikan beban di tanganmu, dipundakmu, untuk mengurus keperluanku, guna merawat anak-anakku, juga memelihara rumahku.

Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku. Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku, kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku, kau buang egomu untuk menaatiku, kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku.
Wahai istriku, di kala susah, kau setia mendampingiku. Ketika sulit, kau tegar di sampingku. Saat sedih, kau pelipur laraku. Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku. Bila gundah, kau penyejuk hatiku. Kala bimbang, kau penguat tekadku. Jika lupa, kau yang mengingatkanku. Ketika salah, kau yang menasehatiku.
Wahai istriku, telah sekian lama engkau mendampingiku, kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki.

Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu?
Dengan alasan apa aku perlu marah padamu?
Andai kau punya kesalahan atau kekurangan, semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan airmata.
Akulah yang harus membimbingmu. Aku adalah imammu, jika kau melakukan kesalahan, akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu. Jika ada kekurangan pada dirimu, itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah. Karena kau insan, bukan malaikat.
Maafkan aku istriku, kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan. Mari kita bersama-sama untuk membawa bahtera rumah tangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah azza wa jalla.
Segala puji hanya untuk Allah azza wa jalla yang telah memberikanmu sebagai jodohku.”
Tanpa terasa air mata Amin menetes deras di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak menahan isak tangis.
Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan. Tak lama kemudian ia pun terlelap.
***
Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali.
Aminah, istri Amin, terperanjat
“Astaghfirullaah, sudah jam dua?”
Dilihatnya sang suami telah pulas di sampingnya. Pelan-pelan ia duduk, sambil memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan.
“Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatangannya. Hari ini aku benar-benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa. Sudah makan apa belum ya dia?” gumamnya dalam hati.
Mau dibangunkan nggak tega, akhirnya cuma dipandangi saja. Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya. Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya hatinya yang bicara.
“Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi imamku. Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku. Begitu besar harapan kusandarkan padamu. Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu.

“Wahai suamiku, ketika aku sendiri kau datang menghampiriku. Saat aku lemah, kau ulurkan tanganmu menuntunku. Dalam duka, kau sediakan dadamu untuk merengkuhku. Dengan segala kemampuanmu, kau selalu ingin melindungiku.

“Wahai suamiku, tidak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku. Tidak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu. Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal tidak menyurutkan langkahmu. Bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak.

“Lalu, atas dasar apa aku tidak berterimakasih padamu, dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu? Seberapapun materi yang kau berikan, itu hasil perjuanganmu, buah dari jihadmu.
Jika kau belum sepandai da’i dalam menasehatiku, tapi kesungguhanmu beramal shaleh membanggakanku.
Tekadmu untuk mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Allah azza wa jalla serta membahagiakanku.
“Maafkan aku wahai suamiku, akupun akan memaafkan kesalahanmu.

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah azza wa jalla yang telah mengirimmu menjadi imamku. Aku akan taat padamu untuk mentaati Allah azza wa jalla. Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya..”
Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota’ayun waj’alna lil muttaqina imama.
Gambar : Ilustrasi Google
Sumber : Sebarkanlah.com