Category Archives: Aleppo

VIDEO: Puluhan Anak Yatim Piatu Dievakuasi dari Aleppo

screen-shot-2016-12-23-at-19-49-05

Suaracitizen.com – Derita korban perang Suriah belum berakhir. Salah satu korban perang Suriah, Bana Alabed dan ibunya Fatemah turut menjadi pengungsi.

Seperti ditayangkan Liputan 6 Petang SCTV, Selasa (20/12/2016), meski bersyukur mereka selamat dan bisa mengungsi, namun Fatimah dan Bana sangat sedih harus terusir dari tempat tinggalnya. Mereka pun terpaksa hidup sebagai pengungsi.

Sementara itu puluhan anak yatim piatu dari Aleppo timur dievakuasi dari Aleppo garis depan pertempuran, Senin 19 Desember 2016. Mereka dibawa ke Al Rashidin, sebuah lokasi di Aleppo barat yang relatif aman dari perang. Sebagian dari anak yatim piatu itu dalam kondisi terluka bahkan kritis.

Keselamatan pengungsi juga terancam. Hal ini manakala bus yang sedianya akan mengangkut pengungsi dibakar oleh militan Suriah. Pembakaran dilakukan ketika terjadi pertempuran antara Fatah Al Sharm dengan kelompok oposisi yang mendukung evakuasi.

Sementara Dewan Keamanan PBB, Senin pagi 19 Desember 2016, menyetujui sebuah resolusi mendesak pengerahan pengawas PBB ke Suriah. Hal ini dilakukan agar segera mengawasi jalannya evakuasi.

Saksikan tayangan video selengkapnya dalam tautan ini

Kejam : Konflik Aleppo, Bus Pengatar Pengungsi Dihancurkan Dan Dibakar Pasukan Militan

screen-shot-2016-12-23-at-19-45-09

Suaracitizen.com – Konflik Aleppo, Bus Pengatar Pengungsi Dihancurkan Dan Dibakar Pasukan Militan, KOnflik DI negara Suriah nampaknya belum juga padam, sedikitnya ada lima bus yang sedang dikirim untuk mengevakuasi warga sipil, namun apa yang terjadi Bis tersebut malah dibakar oleh komplotan MIlitan. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia menyatakan kelompok militan penyerang lima bus itu adalah Jabhat Fateh al-Sham afiliasi al-Nusra yang menentang rakyat sipil keluar dari Aleppo.

Bus-bus itu sejatinya sangat dibutuhkan untuk membawa keluar orang-orang sakit dan terluka dari desa Al-Foua dan Kefraya di Suriah. Observatorium dan stasiun televisi negara Suriah melaporkan pembakaran bus terjadi pada hari Minggu.

Ulah kelompok militan ini berbahaya, sebab bisa menjegal kesepakatan yang dibuat Suriah, Rusia dan Turki untuk meredam gejolak di Aleppo dengan tujuan mengevakuasi ribuan pasukan oposisi dan warga sipil yang terjebak di Aleppo timur.

Kelompok Hizbullah Libanon yang membantu pasukan rezim pemerintah Suriah, mengatakan bus dibakar kelompok Jabhat Fateh al-Sham.

PBB melalui pejabatnya di Suriah mengatakan kepada Reuters, Senin (19/12/2016), evakuasi warga sipil dari Aleppo timur dilanjutkan setelah mengalami keterlambatan tiga hari.

”Evakuasi menggunakan bus dan ambulans untuk meninggalkan Aleppo timur sekarang,” kata pihak PBB, melalui pesan email. Menurut PBB, evakuasi gelombang pertama dimulai semalam sekitar pukul 23.00 waktu setempat.

Sementara itu,  video yang di-posting di media sosial menunjukkan pria berjanggut dengan senjata bersorak dan meneriakkan takbir setelah membakar bus-bus berwarna hijau sebelum mencapai dua desa untuk proses evakuasi.

Media pemerintah Suriah menyatakan pelaku serangan terhadap bus-bus untuk evakuasi warga sipil adalah “teroris bersenjata”.

Robert Mardini, direktur regional untuk Komite Internasional Palang Merah (ICRC) yang berada di garis depan dari evakuasi menuliskan pesan di Twitter bahwa bus dan satu ambulans dari Bulan Sabit Merah Suriah “hanya menyisakan gelap dan dingin di Aleppo timur”. “Berharap evakuasi akan berjalan lancer,” tulis dia.

Presiden Rusia Vladimir Putin (sekutu utama rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad) dan Presiden Turki Tayyip Erdogan (pendukung utama pemberontak atau oposisi Suriah) melalui telepon sepakat bahwa gangguan untuk evakuasi ribuan warga sipil dari Aleppo timur harus cepat diatasi. Komunikasi telepon kedua pemimpin itu disampaikan kantor presiden Erdogan.

Wajib Baca : Konflik Aleppo, Bukti Nyata Kejahatan Kemanusiaan

screen-shot-2016-12-23-at-19-41-25

Suaracitizen.com – Dewan Pengurus Pusat Partai Keadilan Sejahtera meminta pemerintah agar lebih memperhatikan nasib warga sipil yang menderita akibat perang di Aleppo, Suriah.

Melalui keterangan resmi yang diterima Antara di Jakarta, Sabtu pagi, DPP PKS mendesak pemerintah Indonesia agar berperan aktif dengan mendorong negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Dewan Keamanan PBB agar bersama-sama meminta pihak yang terlibat menghentikan kekerasan di wilayah tersebut.

“Segera hentikan tindakan kekerasan, pengusiran, dan pembunuhan masal yang mengarah ke genosida dan kejahatan perang terhadap warga sipil di Aleppo,” ujar Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman, Sabtu (17/12) seperti dilansir kantor berita Antara.

Selain itu, DPP PKS juga meminta pemerintah dapat menjamin keselamatan dan keamanan setiap warga negara Indonesia dan bekerja sama dengan masyarakat internasional untuk menjamin keselamatan warga sipil yang sedang berada di Suriah.

Sohibul Iman mengatakan, perlindungan terhadap keselamatan dan keamanan warga sipil harus menjadi prioritas semua pihak yang bekerja di daerah konflik bersenjata.

DPP PKS mengecam tindakan kekerasan, pengusiran, dan pembunuhan massal yang mengarah pada genosida dan kejahatan perang terhadap warga sipil Aleppo di Suriah yang dilakukan oleh pihak Pemerintah Bashar al-Assad dan Militer Suriah serta kelompok etnis Suriah lainnya. “Tindakan tersebut mengarah pada kejahatan kemanusiaan yang tidak bisa diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia dan komunitas Internasional,” pungkasnya.

Konflik Suriah telah menewaskan lebih dari 450.000 orang, lebih dari satu juta jiwa mengalami luka-luka dan lebih dari 12 juta warga sipil Suriah telah pergi mengungsi. Pada 15 Desember 2016 disepakati gencatan senjata selama tiga hari untuk memberikan kesempatan semua pihak melakukan evakuasi warga sipil. Beberapa aksi demonstrasi mengutuk tindak kejahatan kemanusiaan terhadap rakyat sipil Aleppo terjadi di Turki, Bosnia, Palestina, Maroko, Kuwait, dan Perancis.

Sumber : arah.com

Begini, Aleppo Sebelum dan Sesudah Konflik Empat Setengah Tahun

screen-shot-2016-12-23-at-19-39-06

ALEPPO—Konflik empat setengah tahun yang melanda Aleppo memasuki babak baru. Gencatan senjata terkini kembali diberlakukan. Warga yang mendukung pemberontak dan memilih menetap di Aleppo diberi waktu untuk keluar dari kota tersebut.

Namun, itu tidak mudah. Dilaporkan Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), beberapa jam setelah tenggat waktu evakuasi tidak ada seorang pun yang muncul. Hal ini tidak diperdiksi sebelumnya. Pasalnya rezim berkuasa meyakini sudah menguasai Aleppo dan memaksa pemberontak untuk menyerah.

Lagi pula kota Aleppo sudah hancur lebur tak berbentuk. Konflik tersebut menghancurkan hampir semua sudut kota Aleppo yang sudah berusia empat ribu tahun. Bom, rudal, dan tembakkan meremukkan bangunan-bangunan Aleppo yang sebagian masuk dalam situs bersejarah UNESCO.

Salah satu yang hancur adalah Masjid Umayyad. Beberapa tembok bangunan tersebut runtuh luluh lantak. Padahal, itu menjadi ikon Aleppo sebelumnya. Pun demikian dengan jalan-jalan dan bangunan-bangunan bersejarah lain. Tak sampai 10 tahun yang lalu, bangunan-bangunan itu masih kokoh berdiri dan menjadi daya tarik wisatawan. Sekarang yang ada hanya reruntuhan dan debu.

Pada awal pekan ini, pasukan pemerintahan Presiden Bashar Al Assad mulai menduduki kantong-kantong oposisi bersenjata di kawasan timur Aleppo. Tidak sekadar menyisir bekas lokasi kekuasaan musuh untuk menangkapi pemberontak, pasukan Assad juga menarget warga sipil. Siapa pun yang terlihat saat mereka melakukan razia langsung dieksekusi. Militer Syria menembak mati sedikitnya 82 warga sipil dalam kurun waktu kurang dari 72 jam.

’’Ada sebelas perempuan dan 13 anak-anak yang menjadi korban,’’ kata Jubir Komisi HAM PBB Rupert Colville kemarin (13/12). Eksekuti mati dengan tembakan itu terjadi di empat lokasi berbeda di kawasan timur Aleppo. Empat lokasi tersebut adalah Bustan Al Qasr, Al Fardous, Al Kalasah, dan Al Saliheen. Kabarnya, militan Iraq Harakat Al Nujaba juga terlibat dalam eksekusi itu.

PBB menyatakan, seluruh korban eksekusi ala militan radikal ISIS tersebut merupakan warga sipil. Sebagian di antaranya adalah penduduk yang berusaha menghindari pertempuran tanpa ujung di kota itu. ’’Kami juga mendapatkan informasi bahwa pasukan pemerintah memasuki rumah-rumah warga dan menembak mati siapa pun yang mereka jumpai di sana,’’ lanjut Colville dalam jumpa pers di Kota Jenewa, Swiss.

Kekejian pasukan Assad membuat White Helmets yang bermarkas di Aleppo cemas. Sebab, kantor pusat mereka hanya berjarak sekitar 200 meter dari pos pasukan Assad. Organisasi kemanusiaan yang melancarkan misi penyelamatan sukarela di medan perang tersebut pun hanya bisa pasrah. ’’Takdir kami sudah digariskan. Buat apa menghindar. Bersembunyi juga tak akan membantu,’’ kata Ibrahim Abu Al Laith, jubir White Helmets.

Sekitar 90 persen kawasan timur Aleppo yang menjadi area oposisi sejak 2012 itu dikuasai tentara Assad. ’’Ada puluhan mayat di jalanan kota. Warga yang selamat pun tak berani mengevakuasi mayat-mayat itu untuk dimakamkan. Sebab, serangan udara tak kunjung mereda,’’ kata Rami Abdel Rahman.

Pria yang menjabat sebagai direktur regional SOHR tersebut mengimbau masyarakat internasional segera bertindak. Seruan yang sama disampaikan Jan Egeland, pemimpin organisasi HAM PBB di Syria. Dia mengimbau Damaskus dan Moskow berhenti menghancurkan Aleppo dan merenggut nyawa warga sipil yang tak berdosa. ’’Kami butuh gencatan senjata untuk bisa mengevakuasi warga yang terluka dan terjebak di puing-puing Kota Aleppo,’’ tulis Egeland di Twitter. (AFP/Reuters/BBC/hep/c22/tia)

10 Perkara yang perlu diketahui tentang Aleppo dan Suriah

screen-shot-2016-12-23-at-19-35-37

Suaracitizen.com – Sesudah enam bulan pengepungan, pemerintah Suriah mengumumkan bahwa mereka telah membebaskan Aleppo.

Seharusnya evakuasi warga sipil dari kota itu sudah dimulai, namun pertempuran meletus lagi.

Diyakini, gencatan senjata ambruk sesudah pemerintah menuntut pemberontak untuk membuka jalan bagi warga sipil dan serdadu pemberomntak yang terluka untuk meninggalkan kota.

Betapa pun, itu berarti penderitaan rakyat Aleppo jauh dari usai.

Pemboman terhadap bagian terakhir kota yang dikuasai pemberontak, bisa jadi merupakan kejahatan perang, kata pernyataan PBB, Rabu (14/12).

Kami berbicara dengan Tim Eaton ahli Timur Tengah dari lembaga tangki pemikiran internasional Chatham House, yang memapar keadaan di sana, setelah mengecek topik paling dicari di Google tentang Suriah.

Siapa yang saling berperang di Suriah?

Secara umum, pemerintah Suriah memerangi kelompok-kelompok pemberontak. Namun itu merupakan suatu penyederhanaan besar-besaran.

“Ini tentang beragam peperangan, dan bukan cuma satu peperangan saja,” katanya.

“Perang yang berbeda-beda itu berkelindan satu sama lain di beberapa tempat dengan berbagai cara. Setiap kelompok bentrok dengan berbagai kelompok lain.

“Di beberapa tempat, rezim Bashar al Assad memerangi ISIS. Di beberapa tempat lain, pemberontak dan kelompok-kelompok bersenjata Kurdi memerangi ISIS.”

A mother and baby seen through a sniper's sightsImage copyrightAFP/GETTY IMAGES
Image captionPara pemberontak di Suriah bukanlah satu kelompok dengan satu sudut pandang, satu rantai komando dan satu pesan politik.

Bagaimana semua itu bermula?

Semuanya bermula pada tahun 2011 sesudah apa yang disebut Musim Semi Arab – serangkaian unjuk rasa antipemerintah di berbagai negara di Timur Tengah.

Suriah juga. Rakyat mengungkapkan kemarahan tentang pejabat yang korup dan kurangnya kebebasan sipil.

“Ketika rezim menanggapi aksi-aksi itu dengan langkah yang makin brutal dan penuh kekerasan, banyak pengunjuk rasa dan kelompok tertentu yang menyimpulkan bahwa satu-satunya cara berhadapan dengan pemerintah adalah dengan mempersenjatai diri dan menggulingkan rezim.”

“Hal ini berkembang menjadi perang saudara yang berlarut-larut.”

Siapakah Presiden Bashar al-Assad?

Dia sebetulnya bukan orang yang seharusnya memegang pemerintahan. Awalnya ia dikirim kuliah ke London untuk menjadi dokter mata.

Tapi kemudian kakaknya meninggal dan dia dipanggil kembali kembali ke Suriah dan dipersiapkan untuk mengambil alih kekuasaan jika ayahnya meninggal.

“Sebenarnya muncul banyak harapan ketika ia menggantikan ayahnya pada tahun 2000,” Tim Eaton menjelaskan.

“Orang-orang merasa ini mungkin kesempatan untuk menjadi lebih liberal, untuk membuat semuanya jadi lebih terbuka.

“Selama beberapa tahun pertama, harapan itu segera memudar. Sejak 2011 kita telah menyaksikan kebrutalan rezim yang tak segan untuk menggunakan strategi kekerasan.

“Dia seorang yang bisa melakukan berbagai hal yang mengerikan.”

Presiden Bashar al-Assad dan Presiden Vladimr PutinImage copyrightGETTY IMAGES
Image captionDengan membantu Suriah, Rusia dinilai menempatkan diri mereka di puncak permainan untuk menyejajarkan diri dengan Amerika Serikat.

Mengapa Rusia membantunya?

Ada beberapa kemungkinan penyebabnya.

“Ada yang mengatakan, itu karena Rusia memiliki pangkalan Angkatan Laut di pesisir Suriah. Yang lain mengatakan, Rusia juga ingin turut membasmi kaum ekstrimis Islamis.”

Tapi Tim Eaton meyakini, semuanya merupakan suatu permainan kekuatan global.

“Rusia menempatkan diri mereka di puncak permainan, untuk menyejajarkan diri dengan Amerika Serikat.”

Siapa saja para pemberontak itu?

Dia menggambarkan mereka sebagai ‘konstelasi berbagai entitas.’

“Kita tidak dapat melihat para pemberontak sebagai satu kelompok dengan satu sudut pandang, satu rantai komando dan satu pesan politik.

“Ada banyak kelompok. Beberapa di antaranya dianggap sebagai kelompok teror.”

Pada dasarnya, tidak mungkin untuk menganggap suatu kelompok sebagai sepenuhnya baik dan menganggap kelompok lain sebagai sepenuhnya buruk.

Tim Eaton berbicara tentang ‘hitam, putih dan sejumlah wilayah abu-abu.’

“Ada kelompok pemberontak yang Barat tidak bisa mendukung, antara lain kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS.

“Dan kemudian di sisi lain, ada brigade Tentara Merdeka Suriah – yang merupakan mitra Barat dan dipercaya sebagai kelompok moderat.

“Di tengah, ada kelompok-kelompok Islam yang negara-negara Barat tidak tahu bagaimana cara menanganinya.

“Barat tidak nyaman, tetapi juga tidak bersedia menempatkan kelompok-kelompok ini dalam kotak yang sama dengan ISIS.

“Rusia akan menganggap kelompok-kelompok itu adalah teroris. Tetapi Barat tidak ingin menganggapnya begitu.”

AleppoImage copyrightAFP/GETTY IMAGES
Image captionJatuhnya Aleppo bukan berarti perang sudah berakhir, tapi tak juga berarti perang akan segera berakhir.

Mengapa Aleppo begitu penting?

Di atas kertas, itu karena Aleppo merupakan kota terbesar kedua di Suriah. Jadi dengan menguasai kota itu para pemberontak bisa menampilkan diri sebagai altenatif yang kredibel dibanding pemerintah.

Eaton mengatakan, kekalahan di sana merupakan ‘hal yang sangat menentukan dalam perang ini,’ dan juga dampaknya ‘sangat buruk terhadap moral.’

Menurutnya, kejatuhan Aleppo ‘lebih menunjukkan kelemahan Aleppo, dan bukan kekuatan rezim.’

“Rezim butuh waktu enam bulan, dengan dukungan luar biasa dari Rusia, Iran dan militan lain, untuk merebut kembali Aleppo.’

“Jatuhnya Aleppo bukan berarti perang sudah berakhir, tak juga berarti akan segera berakhir.”

Apakah akan ada Aleppo lain?

Sejak pengepungan dimulai di Aleppo, kota yang tadinya begitu sibuk itu pelan-pelan runtuh jadi puing-puing.

Berbagai berita dan gambar menunjukkan penderitaan manusia yang tak terperikan.

Tim Eaton tidak yakin bahwa ini hanya merupakan suatu kekecualian.

“Dibutuhkan waktu enam bulan bagi pemerintah untuk merebut kembali Aleppo dengan pemboman yang brutal.”

“Sementara itu para pemberontak masih menguasai wilayah-wilayah lain. Jadi kenyataan yang menyedihkan adalah, kita akan menyaksikan dijalankannya taktik yang sama di tempat-tempat lain

“Seluruh horor itu akan terjadi lagi di tempat lain.”

Syrian childImage copyrightAFP/GETTY IMAGES
Image captionLebih dari 11 juta orang mengungsi dari rumahnya atau dari Suriah akibat perang.

Bagaimana skala penderitaan sebenarnya di Suriah?

“Keadaannya begitu mengerikan,” katanya.

“Sangat sulit untuk membuat skala kehancuran dan penderitaan yang akurat. Namun kebanyakan sepakat bahwa lebih dari 500.000 orang terbunuh.”

Ia mengatakan bahwa lebih dari 11 juta orang mengungsi dari rumahnya atau dari negara itu.

Dan itu kira-kira sama dengan jumlah setengah penduduk Suriah sebelum perang.

Mengapa banyak negara maju cuma berdiam diri?

Sebagaimana semua hal di Nigeria, tak ada jawaban gampang untuk pertanyaan ini.

Eaton mengatakan bahwa awalnya ada harapan bahwa semuanya bisa diselesaikan dengan perundingan.

Pada tahun 2013, ratusan orang terbunuh dalam apa yang dicurigai sebagai serangan kimia.

Negara-negara seperti Amerika dan Prancis menyebut hanya pemerintah Suriah yang punya kemampuan senjata kimia. Mereka mengancam akan melakukan serangan militer.

Di Inggris, para anggota parlemen melakukan pemungutan suara, yang hasilnya menolak pemboman ke Suriah. Ini momen kuncinya.

“Hal itu bagai menetapkan irama selanjutnya. Assad menarik kesimpulan bahwa tak ada yang bisa menggulingkannya. ”

“Ia menyimpulkan, ia bisa sebrutal apa pun yang dia mau, asalkan tidak menggunakan senjata kimia.”

AleppoImage copyrightAFP/GETTY IMAGES
Image captionSejak pengepungan dimulai di Aleppo, kota yang tadinya begitu sibuk itu pelan-pelan runtuh jadi puing-puing.

Bagaimana orang seperti kita bisa membantu?

Tim Eaton mengatakan, salah satu pilihannya adalah menyumbang kepada lembaga sosial yang bekerja di Suriah, walaupun makin sulit saja untuk melakukan kerja kemanusiaan di medan perang.

“Sungguh saya kira orang-orang bisa mendorong agar masalah ini menjadi agenda dan kepedulian para politikus.”

“Apa yang terjadi di Aleppo tak bisa dianggap sebagai sekadar kejadian biasa.”

“Terang-terangan saja: kita tak melihat kepedulian dan tanggung jawab (para politikus) tentang masalah ini. Kita harus menuntut agar para politikus mengemban kewajiban mereka soal ini.”

Sumber : bbc.com

Konflik Aleppo: ‘Pesan terakhir’ penuh keputusasaan dari kota yang dikepung

Seorang ibu tua dinaikkan ke atas gerobak bersama tumpukan barang di wilayah Aleppo, Suriah, 12 Desember 2016.
Seorang ibu tua dinaikkan ke atas gerobak bersama tumpukan barang di wilayah Aleppo, Suriah, 12 Desember 2016.

Saat gempuran tentara pemerintah Suriah ditingkatkan, teriakan minta tolong dari orang-orang yang terjebak di sana terasa semakin putus asa.

Seorang aktivis bernama Lina menggunggah video di Twitter dan memohon, “manusia di seluruh dunia, jangan tidur! Anda bisa melakukan sesuatu, protes sekarang! Hentikan genosida”.

Lainnya, mengunggah pesan bernada pilu selagi bom berjatuhan di sekeliling mereka.

Seorang pria mengatakan ini adalah video terakhir yang dia unggah. “Kami lelah berbicara, kami letih berorasi. Tidak ada yang mendengar, tidak ada yang merespons. Kini datang bom., Di sini video berakhir.”

Sebuah bom meledak di dekat wilayahnya, sesaat sebelum video selesai.

Dan pada Selasa pagi, Monther Etaky menulis, “saya masih di sini, menghadapi genosida bersama sahabat-sahabat saya tanpa ada komentar apapun dari dunia.”

Dan kematian terus mengancam. “Saya harap saya bisa menyiarkan kematian kami untuk Anda,” katanya dengan pahit.


Tweet by Monther, saying Image copyrightTWITTER
Image caption“Saya masih di sini, menghadapi genosida bersama sahabat saya tanpa ada komentar apapun dari dunia.”

Bana Alabed, anak perempuan berusia tujuh tahun yang sejak lama berkicau di Twitter melalui akun ibunya, menulis pesan pilu Selasa pagi.

“Saya berbicara kepada dunia sekarang, langsung dari Allepo timur. Ini adalah momen terakhir saya, untuk hidup atau mati.”

Sebelumnya, dia mengatakan,”pesan terakhir. Orang-orang mati sejak malam kemarin. Saya terkejut bahwa saya bisa menulis pesan sekarang dan masih hidup.”

Dan beberapa jam sesudahnya, “Ayah saya terluka. Saya menangis.”


Tweet by Bana, saying Image copyrightTWITTER
Image captionNama saya Bana, tujuh tahun, saya berbicara pada dunia langsung dari Aleppo timur.”

Terlihat jelas dari sejumlah pesan, bahwa Aleppo dihujani serangan dalam intensitas yang paling hebat.

“Ini adalah neraka,” kata satu kicauan dari akun White Helmets – grup relawan Suriah yang melakukan kerja sosial di Aleppo timur. “… Semua jalan dan gedung-gedung runtuh dipenuhi dengan orang-orang mati.”


White Helmets tweetImage copyrightTWITTER
Image caption“Tidak ada angka persis korban mati di Aleppo hari ini. Semua jalanan dan gedung-gedung runtuh dipenuhi orang-orang mati.”

Syrian civilians flee the Sukkari neighbourhood towards safer rebel-held areas in south-eastern Aleppo, on 12 December 2016, during an operation by Syrian government forces to retake the embattled city.Image copyrightAFP
Image captionSejumlah orang yang bisa pergi dari kota itu, mengungsi.

Deskripsi situasi di Aleppo dipenuhi dengan kalimat-kalimat yang menggambarkan ‘kiamat.’ Abdul Kafi Alhamado, guru bahasa Inggris di dalam wilayah yang masih dikuasai pemberontak di Aleppo mengatakan suasananya seperti ‘kiamat’ ketika pasukan pemerintah Suriah makin mendekat.

“Bom di mana-mana. Orang-orang berlarian, mereka tidak tahu ke mana, hanya berlari. Orang-orang terluka di jalanan. Tidak ada yang pergi membantu mereka,” katanya pada BBC News.

“Beberapa orang terjebak di reruntuhan, tidak ada yang bisa membantu. Mereka hanya meninggalkan mereka di bawah puing-puing hingga mereka mati – reruntuhan itu adalah kuburan mereka,” katanya.

Sebagian orang hanya bisa mengirimkan pesan ke BBC melalui ponsel.

Seorang ayah di kota itu menulis, “saya rasa ini adalah selamat tinggal. Terima kasih kepada mereka yang membela dan berdoa untuk kami. Tapi ini hampir berakhir, dan hanya tinggal beberapa jam saja sebelum mereka membunuh kami.”

Dan seorang ayah, yang sering berkomunikasi dengan BBC dalam beberapa tahun terakhir, menulis dalam Twitternya, “Pesan terakhir. Terima kasih untuk semuanya. Kita telah berbagi banyak momen. Ini adalah tweet terakhir dari seorang ayah yang emosional. Selamat tinggal, Aleppo.”

Dikutip oleh : BCC Indonesia

Aleppo, Kota Kelahiran Para Ulama Besar Dunia

screen-shot-2016-12-23-at-07-45-30

JAKARTA — Ketua Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an (LPMQ), Muchlis Hanafi sangat menyayangkan tragedi kemanusiaan di Aleppo, Suriah.

Muchlis mengajak umat Muslim di seluruh dunia untuk berdoa bagi para masyarakat di Aleppo agar terhindar dari aksi pengeboman.

Menurut Muchlis, seharusnya Aleppo menjadi kota yang indah dan damai. Hal itu dikarenakan banyaknya para ulama besar dunia yang lahir di kota Aleppo.

Muchlis berharap tragedi kemanusiaan tersebut dapat segera berakhir.

Lihat Video :

Videografer:
Wisnu Aji Prasetiyo

Video Editor:
Fian Firatmaja

 

Sumber : republika.co.id

FOTO DAN VIDEO MENGHARUKAN Erdogan SAMBUT Gadis Cilik Aleppo Bana Alabed di Istana Kepresidenan Turki

screen-shot-2016-12-22-at-17-49-41

Suaracitizen.com – Gadis cilik berusia 7 tahun asal Aleppo, Bana al-Abed, yang akun Twitternya menggemparkan dunia karena secara berani memberi gambaran tragis pengeboman Aleppo di Suriah, hari ini, Rabu, 21 Desember 2016 akhirnya bertemu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di istananya di Ankara.

Tak mampu menahan rasa gembiranya, Bana pun langsung mengicaukan perjumpaannya dengan Presiden Erdogan pada akun twitternya, @AlabedBana.

 

screen-shot-2016-12-22-at-17-44-28

Presiden Erdogan pun mengungkapkan kebahagiaannya saat menjamu Bana dan keluarga melalui akun twitternya @RT_Erdogan.

screen-shot-2016-12-22-at-17-45-21

Media Turki Anadolu Agency, memuat foto Erdogan, yang dengan sangat rendah hati menerima Bana dan keluarganya di istananya. Dalam
foto itu, Erdogan nampak sedang memeluk Bana dan seorang bocah Suriah lain.
screen-shot-2016-12-22-at-17-47-08

Sementara sebuah video, merekam kebahagiaan Erdogan yang sedang duduk sembari membopong Bana dan seorang anak tak dikenal, sementara Emine, istri Erdogan berdiri di samping suaminya. Sontak, video dan foto tersebut menjadi viral di berbagai media sosial dunia.

Bana berhasil dievakuasi pada hari Senin dan pejabat Turki berjanji, Bana dan keluarganya akan diundang ke Turki.

Bagi 330.000 followernya di twitter, Bana adalah simbol dari tragedi yang berlangsung di Suriah, meskipun rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad mengecam hampir setiap tweet yang setiap hari Bana dan ibunya kicaukan, sebagai propaganda.

Gadis cilik Suriah Bana al Abed, adalah salah satu dari ribuan orang beruntung yang dievakuasi dari daerah Aleppo Timur.

Tim Kemanusiaan dari Indonesia Ini Siap Beri Bantuan Aleppo Senilai Rp 5 Milyar

screen-shot-2016-12-22-at-01-33-49

Suaracitizen.com – Jutaan saudara di Suriah hidup di bawah bayang-bayang teror hampir setiap hari. Mereka hidup dalam keterbatasan pangan, keamanan, dan kebimbangan. Aksi Cepat Tanggap (ACT) telah memberangkatkan Tim Sympathy of Solidarity (SOS) kesebelas ke Suriah via Turki. Pada misi kemanusiaan kali ini, tim SOS dari ACT menyiapkan bantuan senilai Rp5 milyar untuk meringankan penderitaan bagi rakyat Suriah.

Sejak pertama kali konflik kemanusiaan Suriah meletus, Aleppo menjadi pusat pertempuran dan perebutan berbagai pihak. Tidak terbantahkan, ribuan warga Suriah yang bermukim di Aleppo kehilangan harapan dan rasa aman. Mereka senantiasa dihantui rasa takut akan serangan dari berbagai arah, dihujani bom dan senjata kimia, hingga terusir dari rumahnya. Warga yang berhasil selamat masih menunggu jalannya proses evakuasi dan menantikan bantuan kepedulian di tengah kepungan pasukan rezim al-Assad.

Tim SOS ke Suriah diperkirakan akan mencapai Suriah via Turki pada Ahad (18/12) waktu Jakarta dan bersiap untuk menyalurkan bantuan. “Pengiriman akan terus dilakukan secara bergelombang. Prioritas bantuan adalah kebutuhan pangan, sandang, tenda, obat-obatan, dan pembangunan pabrik roti untuk mensuplai kebutuhan pangan para pengungsi secara berkelanjutan,” jelas Ahyudin, Presiden ACT seperti keterangan pers yang diterima BersamaDakwah.net.

Bukan kali pertama tim SOS berhasil mendarat di Suriah dan menyalurkan bantuan kemanusiaan. Sejak setahun konflik pecah hingga sebulan yang lalu, tim SOS terus menyalurkan bantuan untuk meringankan penderitaan warga Suriah ke beberapa wilayah di Suriah. Sementara pada misi kali ini, ACT dengan tim SOSnya akan menyalurkan bantuan kebutuhan dasar bagi para korban dan mulai mempersiapkan rencana jangka panjang untuk membangun pabrik roti sebagai makanan utama warga Suriah. “Tiap langkah yang dilakukan untuk Suriah terlebih Aleppo harus dalam bingkai aksi untuk sekian tahun ke depan, aksi jangka panjang untuk meringankan beban jutaan pengungsi Suriah,” tambah Ahyudin.

Selain terus berupaya merealisasikan pembangunan pabrik roti, tambah Ahyudin, ACT juga akan menginisiasi kantor perwakilan resmi di Turki sekaligus menyiapkan markas khusus untuk menampung relawan dan para donor Indonesia yang dipastikan akan berdatangan memberi bantuan kemanusiaan bagi para pengungsi Aleppo. Kantor perwakilan resmi ACT di Istanbul, Gaziantep, atau Reyhanli akan menjadi penegas bahwa bangsa Indonesia punya komitmen jangka panjang untuk meredam krisis kemanusiaan yang sedang membubung di Suriah. [Paramuda/BersamaDakwah]